Puisi Trunojoyo “Karya : H. Asfandi”

Saudara-saudara ku….
Tahukah kita semua, di tanah yang kita pijak saat ini,..
Di bumi yang kita injak saat ini,
371 Tahun Silam
“ BHABHAR “ seorang ksatria Madura
Dialah “ TRUNO JOYO “
Kendatipun ia terlahir dari Rahim seorang selir
Ia tetap cucu Raja Madura
Keponakan Raja yang sedang berkuasa
Menggetarkan Jawa
Memutus segala asa setiap raja Mataram
Yang bersekutu dengan Belanda31 Tahun usia nya harus menghadapi maut
2 Januari 1680 dadanya robek Diujung keris Raja Mataram
Kepala nya dijadikan bola permainan
Tubuh nya dicincang habis-habisan
Hati nya di sebar dan dimakan para senopati Mataram
Darah dan Luka nya masih membekas disini…. Di Sampang…. Tempat
kelahiran nya….Disini kita terlahir…
Ayo kita lanjutkan Perjuangan nya disanaa….. hai para ksatria Madura…
Di Bumi Jawa….
Mengantar sang “Truno” ber “Jaya”
Menjadi Pahlawan negara
Bukan hanya pahlawan Madura saja.
Kalau bukan kita siapa lagi ?
Kalau bukan sekarang kapan lagi ?

Madoera Tempo Doeloe Sudah saatnya Kembali pada Fitrah Jati Dirinya

Visi Misi Madoera Tempo Doeloe

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Kabupaten Sumenep tidak tergabung dalam organisasi Perkumpulan Madoera Tempo Doeloe yang disingkat MTD, ada penuturan teman diskusi di Pababaran Sampang memberikan informasi yang mengejutkan, bahwa ada beberapa oknum MTD yang ingin mengarahkan organisasi kebudayaan ini untuk proyek pribadi atau golongan dengan bekerja sama dengan Pemerintah untuk pengembangan pariwisata.

Bicara Keinginan, semua orang punya keinginan, bicara kepentingan, semua orang punya kepentingan, suatu hal yang alamiah yang ada dalam diri manusia, namun jika tidak disertai oleh keinginan luhur, mengabdikan diri untuk kepentingan banyak orang, maka yang terjadi tinggal menunggu kehancurannya, ini biasa terjadi di dalam banyak organisasi kecil dan besar, kehancurannya dimulai dari perpecahan internal yang hanya mementingkan ego sektoral, bukan kepentingan umat.

Saat itu ia melanjutkan cerita menuturkan dan mempertanyakan, dimana pelestarian dan nilai budaya tempo dulu di organisasi MTD ini yang sesuai dengan visi misi tertulis, sangat disayangkan pembentukan organisasi yang luhur ini harus dinodai dengan adanya oknum yang ingin mengambil manfaat mengatasnamakan lembaga MTD melobi kepada pemerintah untuk kepentingan proyek pribadinya nanti.

Sudah jauh dari cita-cita luhur Madoera Tempo Doeloe, jauh dari visi misi, Cita-cita luhur yang di emban dan tertulis di AD/ART oleh para pendiri seringkali disalah artikan atau salah tafsir pada anggota MTD yang lain, banyak para oknum menyelinap masuk ke MTD memanfaatkan organisasi ini untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok, tidak heran organisasi ini pun berjalan sangat lamban.

Sesuai informasi yang didapatkan dari orang Sumenep yang tergabung dalam Sumenep Tempo Doeloe, alasan pertama Sumenep Tempo Doeloe lebih dahulu terbentuk daripada Madoera Tempo Doeloe, alasan yang kedua adalah orang-orang MTD lebih banyak memikirkan proyek Perusahaannya daripada memikirkan pengembangan organisasi ini ke depan, organisasi ini tidak lebih dipakai sebagai kendaraan mendapatkan proyek sebagai Mitra Pemerintah.

Jika informasi ini valid, maka mohon untuk bisa koreksi diri di masing-masing pengurus Kabupaten dan para pengurus pusat segera meluruskan tentang visi misi Madoera Tempo Doeloe, karena kita sebagai orang Madura merasa peduli dan ikut andil untuk pengembangan dan pelestarian budaya di Madura.

Orang memanggilnya “Nyi Ageng Trunojoyo” Untuk para perempuan MTD Trunojoyo Sampang

Nyi Ageng Trunojoyo

Sebelum disahkan dan dideklarasikan para perempuan yang ada di MTD Trunojoyo sering disebut Kartini Trunojoyo, dimana nama Kartini adalah simbol dari kepahlawanan orang Jawa Tengah dan orang tidak ada sangkut pautnya dengan Madura.

Berawal dari Ba Daiman atau Haji Daiman yang dengan lugas mengusulkan kepada para perempuan MTD Trunojoyo saat pertemuan di Pababaran Sampang, yang kemudian didiskusikan oleh para perempuan MTD Trunojoyo hingga pada akhirnya disepakati nama Nyi Ageng, nama ini tidak serta merta diambil begitu saja, karena nama ini ada sangkut pautnya dengan nilai historis para raja di Madura.

Dengan nama Nyi Ageng Maka lahirlah julukan baru untuk para perempuan MTD Trunojoyo menjadi Nyi Ageng Trunojoyo, sebuah nama yang pas di hati dan hampir tidak ada tekanan bathin dalam jiwa para perempuan MTD Trunojoyo, nyaman dan sejuk yang dirasakan oleh mereka, salah satunya Mi Sisi, Juwita dan Yuli mengungkapkan rasa itu.

Rencana yang harus dipangkas oleh panitia acara Tirakatan Menuju Kemerdekaan, mendeklarasikan nama Nyi Ageng Trunojoyo didepan para undangan lainnya harus dibatalkan karena durasi waktu yang tidak memungkinkan, untuk itu akan ada pertemuan kembali khusus Nyi Ageng Trunojoyo untuk program yang diembannya.

Untuk jangka panjang ke depannya khusus Nyi Ageng Trunojoyo akan berkarya lewat Ronjhengan dan seni musik lainnya, disamping untuk membudayakan dan melestarikan budaya, mengenalkan kembali juga mensosialisasikan kepada masyarakat budaya yang hampir hilang ditengah hiruk pikuk budaya asing yang datang, orang Indonesia harus menjadi orang Indonesia dengan banyak suku, sukses dan teruslah melangkah Nyi Ageng Trunojoyo.

Gerakan Moral Perjuangan MTD Untuk Kepahlawanan Pangeran Trunojoyo, (Jangan Kotori dengan komentar sinismu, jika kau pun tidak mampu berbuat apa)

Pababaran Trunojoyo Sampang

Kapan hari ketika menulis artikel tentang sejarah dan arti perjuangan organisasi MTD Trunojoyo yang memperjuangkan Pangeran Trunojoyo menjadi Pahlawan Nasional adalah bukan hal yang baru, jauh sebelum itu banyak orang yang sudah memperjuangkan Pangeran Trunojoyo menjadi sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia, namun kandas di tengah jalan.

Melihat komentar para netizen yang merasa sudah banyak berbuat tentang Kepahlawanan Pangeran Trunojoyo, ada hal yang mengganjal dalam diri saya dan mempertanyakan mereka yang merasa ikut andil dalam memperjuangkan Kepahlawanan Pangeran Trunojoyo karena komentar miringnya, kenapa baru sekarang, baru bangun tidur ya?, dan banyak komentar lainnya.

Sudah tidak mau mendukung gerakan moral ini, akan tetapi mereka malah berkomentar miring, dengan komentar sinis mereka membuat gerakan ini menjadi pesimis, seolah memperjuangkan Pangeran Trunojoyo menjadi sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia baru kali dilakukan, jika hanya komentar dengan nada miring seperti itu semua orang bisa, sangat ironi karena mereka bagian dari orang Madura bagian dari gerakan Madoera Tempo Doeloe yang mempunyai seorang Ksatria membela kebenaran membela rakyat yang tertindas yakni Pangeran Trunojoyo.

Salah satu visi misi Madoera Tempo Doeloe adalah Melestarikan budaya leluhur sehingga tercipta keinginan luhur untuk kesejahteraan masyarakat Madura.

Seperti yang kita tahu tentang Pangeran Trunojoyo dianggap sebagai Pahlawan bagi orang Madura, namun secara administrtif sampai saat ini belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Republik Indonesia, tempat lahirnya ada di Pababaran Jalan Pahlawan Gg. VIII Sampang, karena itu MTD di Sampang memakai nama “Trunojoyo” Sebagai simbol Perjuangan.

Tidak kata lain selain kita bersama untuk mewujudkan cita-cita luhur bangsa bergotong-royong menuju keinginan luhur dalam membangun bangsa, menyongsong gerakan moral Madoera Tempo Doeloe ini untuk menjadi manfaat bagi tanah kelahiran Madura dan bangsa Indonesia.

Sang “Pahlawan” sejati MTD Trunojoyo untuk Mereka yang sekarang Terkenal dan dikenal

Didit

Dalam suatu organisasi setiap individu dalam Berperan pasti akan memilih peran yang banyak ingin diketahui khalayak banyak, mereka jarang sekali ingin bekerja dibalik layar dimana kerjanya tidak kelihatan, hanya karena ingin dikenal oleh banyak banyak orang dan ingin eksis untuk bisa nampang di dunia maya.

Namun tahukah anda semua, anda bukan apa-apa dan anda bukan siapa-siapa tanpa adanya fotografer dan videografer yang rela mondar mandir dengan gaya untuk mengambil dokumentasi ke dalam sebuah foto ataupun video sehingga anda semua bisa tampil layak bagus di dunia maya.

Siapa lagi kalau bukan Budiarta atau dikenal dengan Mas Didit, sosok yang tidak banyak bicara namun banyak bekerja, ini sesuai dengan slogan salah satu produk Talk Less Do More, yang artinya Kurangi bicara banyak bekerja, suatu karakter yang sangat dibutuhkan banyak orang tentunya, daripada banyak bicara kerja tidak ada, banyak orang yang model seperti itu.

Menjadi salah satu bagian dari MTD Trunojoyo, Mas Didit seringkali menjadi icon yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terbukti karya-karya foto dan video mampu memukau orang yang menontonnya, pengabdian yang tidak sia-sia karena salah satu videonya ada yang diambil program TV untuk ditayangkan.

Karya nyata kerja nyata adalah hal yang patut diacungi jempol, hanya dengan karya mas Didit banyak memukau jutaan penonton, pengabdian terhadap MTD Trunojoyo adalah hal nyata untuk kepentingan organisasi ke depannya, terus berkaryalah sang Pahlawan dibalik layar MTD Trunojoyo.

MTD, Gelar Tirakatan Menuju Kemerdekaan Pangeran Trunojoyo

Ketua MTD Trunojoyo Sampang,
Raden Achmad Fauzan.

Sebagai salah satu bentuk kepedulian madura tempoe doeloe (MTD) Sampang dalam mengenang Perjuangan Pangeran Trunojoyo dan dalam memperingati hari ulang tahun (HUT) Republik Indonseia (HUT) RI ke -75 di tahun 2020.

Minggu (16/08), MTD menggelar acara tirakatan yang berlokasi di Pebabaran, jalan Pahlawan, Kelurahan Rongtengah, Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang yang dikenal sebagai tanah kelahiran pangeran Trunojoyo.

Dalam acara tirakatan tersebut, MTD Sampang berupaya mengenalkan kembali kepada seluruh masyarakat Sampang tentang keberadaan pangeran Trunojoyo yang merupakan salah satu tokoh pejuang yang sempat mendukung kemerdekaan.

Dalam acara tirakatan tersebut MTD juga mengajak masyarakat untuk mengenang kembali jasa-jasa pangeran Trunojoyo dalam melawan penjajah belanda yang telah bekerja sama dengan kerajaan mataram.

Tema yang kami ambil adalah tirakatan Menuju Kemerdekaan Pangeran Trunojoyo, karena pangeran Trunojoyo merupakan salah satu pejuang kemerdekaan yang selama ini kurang di ketahui oleh Publik.

‘Sehingga acara kali ini juga merupakan doa dari kami MTD dan masyarakat Sampang agar pangeran Trunojoyo masuk dalam Pahlawan Nasional,”ujar Ketua MTD Sampang H. Raden Fauzan.

Dalam menyambut kemerdekaan RI ke – 75 ini merupakan momentum yang tepat dalam melaksanakan kegiatan ini, dari kegiatan ini kita merangkul masyarakat sampang bahwa Kabupaten Sampang memiliki pahlawan nasional yakni pangeran Trunojoyo.

“Dipusat usulan kami sudah masuk, dan setelah kami kordinasi juga dengan ibu gubernur Jatim Khofifah, ternyata ibu gubernur sangat mendukung,” terangnya.

Dari hasil kordinasi kami dengan ibu Gubernur, selain Pangeran Trunojoyo yang diusulkan sebagai pahlawan nasional, Ibu Gubernur juga meminta agar Gusdur juga diusulkan sebagai pahlawan Nasional

“Usulan masih proses, semoga bisa segera ada keputusan dari pemerintah pusat,” harapnya.

Pangeran Trunojoyo merupakan sebuah simbol Kabupaten Sampang, sehingga sampang memiliki sejarah yang luar biasa. Sehingga tradisi ini bisa dijadikan sebuah tradisi yang bisa membawa kejayaan kabupaten sampang.

“MTD merupakan sebuah organisasi masyarakat yang terstruktur secara vertikal, selain disetiap kabupaten ada, di Provinsi Jatim ada, bahkan di pusat juga ada. Dalam acara kali ini ketua MTD Jatim Hasbullah Wijaya turut hadir dalam acara ini,” pungkasnya. (Rif)

DARAH DARAH TUMPAH (Karya : Ach. Buchori)


Tak perlu protes bung !
Darah, darah tumpah deras
Bau anyir ke lorong pelosok kampung
Tuk menyeru sabda alam merdeka
Takbir takbir bergema usir penindasan
Namun tersingkir kini, terjungkir
Meja mengkilat kuasahi mereka
Kursi kursi empuk cuma permainan
belaka
Entahlah siapa di balik semuanya
Jalanan mengkilat hak siapa?
Coboy dan cukong cukong beraksi di balik bebatuan
Hamba sahaya pandang sayu layu
Tak kuasa nikmati kertas mulus mengkilat
Cuma kantong usang terisi kepingan
ketengan
Usah protes bung!
Gunung dan hamparan sawah menguning
tercabik cabik moderenisasi
Hutan belantara, buldoser merayap
mengoyak ngoyak akar pohon kehidupan
Daun daun berguguran berserakan
Banjir bebas melabrak hidup insan
Belungsukan ke lorong pasar pojokan
Sanggupkah?!
Hamba sahaya minggigil tak ber
selumut
Tetapi disana tak terusik, pandang tenang
Se tenang burung berkicau di pagi subuh
Masih asyik dengan programnya
Entah program apa?
Untuk siapa?

Sampang–Surabaya,3-3-2020
Paseyan Sampang Madura

HADIRMU (Karya: Wa5 joyo Al Hadi)

Kau datng malam ini…
Kemarilah…duduk di sampingku…
Apa yang kau bawa untukku…
Sisihkan sedikit untuk nya

Apakah kau lelah…?
Minumlah secawan anggur ini..
Cukup seteguk saja…
Sisakan sedikit untuknya…

Apakah engkau lapar…
Makanlah..roti selai ini
Tapi…sisakan remah remahnya untuknya…

Apakah engkau mengantuk sekarang…?
Tidurlah…di rebahanku
Tapi…jangan pejamkan mata batinnmu untukKu…

Kau tahu kenapa?
Di saat kau hilang…dan pergi…maka Aku tak akan kembali…Aku…akan pergi bersamanya…
Membawa rasa
Rasa hidup…di dalam rasa…pahamkah dirimu
Maka biarkan Aku…bersamamu

Tak usah mencariku (Karya:Wa5 Al Hadi)

Aku … Lailatu Al-Qodar.

Kemarin…
Kau bertanya siapakah diriku?
Kau bertanya di manakah keberadaanku…?

Sekarang aku berbalik tanya padamu.
Taukah siapa dirimu?
Dimanakah dirimu?

Celoteh malammu menyenyakkan tidurku.
Hembusan nafasmu mengalir menyerukan asmaku.
Lelahmu bangkitkan rinduku.

Dalam keheningan… Terkoyak oleh sujudmu.
Sudahkah kau temukan aku?

Dalami akan makna diriku
Dan rasakan apa yg kau rasakan.
Hayati arti malamku
Maka kau akan rasakan hadirku.
Nikmati di setiap langkahmu.
Maka kau akan tau aku selalu menyertaimu.

Agungkan aku dalam sanubarimu.
Maka kau akan paham.
Bahwa aku selalu bersamamu.
Tak usah kau mencariku.

Ingatkah engkau…
Seseorang yg berbisik di telingamu?
Coba pejamkan matamu.
Dari keburukan berubah kebaikan.
Dari kesalahan berubah kebenaran.
Dari kebodohan berganti pengetahuan.
Dari kekanakan berganti kedewasaan.

Menjadi lebik baik itulah aku.
Tak usah kau mencariku.
Karna aku telah bersamamu.