Mengenal Sosok Sang Tokoh Budaya “Bapak Bustomi” Pelipur lara

Bustomi, H. Daiman, Diana, Yuli, R. Fauzan

Banyak hal yang perlu digali dan dilestarikan untuk memberikan pemahaman kepada generasi ke generasi, budaya yang terdahulu seolah hampir punah, budaya yang harusnya menjadi acuan manusia untuk berbudi pekerti tata krama yang baik sudah dianggap tidak menarik lagi bagi kaum milineal masa kini.

Pengaruh westernisasi dijaman modern ini hampir mempengaruhi generasi muda milineal, dari segi pakaian, perilaku, bahkan tutur kata pun seolah tidak mencerminkan budaya leluhur kita, dimana mereka sudah tidak mengerti dan memahami budi pekerti luhur, cara bersikap terhadap orang yang lebih tua, mereka mayoritas menganggap sama ketika harus menghadapi berbicara dengan orang tua.

Bapak Bustomi banyak menceritakan tentang budaya leluhur kita di Madura, dari sejarah kerajaan, tutur kata dan bahasa orang Madura yang semakin hari semakin langka, butuh orang yang peduli untuk menggali dan melestarikan semua hal tentang budaya warisan nenek luhur.

Dalam tanya jawab pak Bustomi menjelaskan kenapa dan apa manfaatnya kita mempelajari sejarah dan budaya, Bapak Bustomi menjelaskan dengan gamblang bahwa Sejarah dan budaya merupakan karya besar warisan nenek moyang kita sebagai acuan manusia berbudi luhur, orang yang mempunyai jiwa seni akan sangat mudah memahaminya sebagai karya yang tidak bisa diukur dengan hal yang sifatnya materi.

Bapak Bustomi melanjutkan dengan memberikan ilustrasi, ketika saya diberikan mesin ketik oleh Ibu Ainun (Istri Habibi) dan ada orang ingin membeli dengan harga tinggi, apakah saya akan memberikan begitu saja?, tentu saja tidak, pemberian itu simbolik, ada nilai historis pada benda yang diberikan oleh Ibu Ainun tersebut, benda itu melebihi dari apapun.

Bapak Bustomi adalah seorang Guru teladan yang masih dan tetap sampai sekarang menjunjung tinggi idealisme, terbukti beliau menjadi Kepala Sekolah seharusnya 25 tahun yang lalu, karena baginya Jabatan amanah, bukan harus bayar atau menyogok untuk mendapatkan jabatan, ini salah satu bukti Bapak Bustomi sangat menjadi panutan orang-orang yang mengenalnya.

Pertemuan yang sangat singkat dengan kunjungan organisasi Madoera Tempo Doeloe ke Banyuates membawa banyak pelajaran yang berarti untuk sejarah dan budaya yang memang harus lebih digali lagi dan dilestarikan, selain itu suasana sangat interaktif disertai canda tawa dengan saling balas joke atau guyonan bahasa Madura.

Gerakan Moral MTD Trunojoyo banyak menuai respon positif

Mahtum, Bagus, R. Fauzan, Imam Sanusi

Pababaran Trunojoyo adalah satu-satunya peninggalan sejarah Pangeran Trunojoyo dimana Ari-ari atau orok ditanam, konon disampingya dahulu kala ada bangunan tempat tinggal keluarga Pangeran Trunojoyo, namun bangunan tersebut tidak terlihat lagi.

Setelah sekian lama di Pababaran Pangeran Trunojoyo menjadi tempat yang kurang terawat, ada organisasi dari luar Pemerintah Daerah yang ingin membantu untuk merawat dan melestarikan tempat Pababaran tersebut yakni adalah MTD Trunojoyo Sampang.

MTD Trunojoyo yang diketuai oleh Raden Achmad Fauzan yang dikenal dengan Gus Fauzan dengan gerakan tempo dulunya yakni menelusuri sejarah dan budaya yang hampir punya banyak yang menuai respon positif bagi masyarakat banyak, terbukti banyak bantuan mengalir ke pusat Pababaran Trunojoyo Sampang yang nantinya akan dijadikan salah pusat informasi sejarah dan budaya.

Bapak Imam Sanusi dan Bapak Mahtum mewakili Disporabudpar seringkali memberikan bantuan kepada MTD Trunojoyo Sampang, entah itu alat kebersihan, sanyo dan lain sebagainya untuk bisa memberikan semangat kembali kepada keluarga besar MTD Trunojoyo Sampang.

Dengan adanya fasilitas untuk menunjang program MTD ke depannya pihak Pemerintah Daerah dan organisasi MTD Trunojoyo bisa lebih optimal lagi untuk bisa mewujudkan program kerja yang sudah dibuat, semoga MTD ke depan menjadi gerakan moral untuk bisa menjadikan Sampang Hebat Bermartabat, ujar Gus Fauzan.

Kerja Ikhlas Hasil Nyata Untuk Kepentingan Umat “Pengabdian Bu Ana dan Mbak Yuli”

Mbak Yuli dan Bu Ana

Jaman sudah berubah, segala sesuatu yang kita kerjakan pasti ada upah ada timbal balik dengan apa yang dikerjakan, jarang orang bisa bekerja untuk sesuatu dengan ikhlas ataupun menjadi relawan, semua seolah kata orang Madura ada Pakan ada Pakon, begitulah realita kehidupan saat ini.

Namun tidak berlaku untuk Yuli dan Bu Ana yang mau melakukan sesuatu dengan ikhlas tanpa harus mengharapkan imbalan, mengelola membersihkan dan memperindah Pababaran Trunojoyo menjadi tugas wajib mereka berdua hampir tiap pagi dan sore, menjadi perhatian banyak pihak yang seharusnya menjadi tugas Pemerintah sebagai

Mereka berdua rela meluangkan waktunya untuk merawat dan melestarikan peninggalan sejarah Trunojoyo yang menjadi icon atau simbol Perjuangan Madura, dan menjadi salah satu peninggalan sejarah cagar budaya di Kabupaten Sampang, bukan hal yang aneh bagi mereka berdua yang memang mau mengabdi mengenang jasa Pahlawan Madura Pangeran Trunojoyo, sebab pengabdian itu akan menjadi amal dan anugerah tersendiri bagi dirinya dan bagi masyarakat lainnya.

Tidak ada yang sia-sia dengan mengerjakan sesuatu dengan ikhlas, segala sesuatu niat Tuhan pasti tahu, balasannya pun akan lebih besar mereka yang bekerja ikhlas demi kepentingan umat, Bu Ana dan Mbak Yuli menjadi tauladan Kerja Ikhlas Hasil nyata yang menjadi bagian dari MTD Trunojoyo Sampang.

Kerja Nyata MTD Trunojoyo Bersih-bersih Pababaran Trunojoyo Sampang ” Bukti Pangeran Trunojoyo adalah Orang Sampang”

Tempat Ari-Ari Pangeran Trunojoyo

Dimulai dari hal terkecil MTD Trunojoyo mencoba merealisasikan dengan kerja nyata bersih-bersih di Pababaran Trunojoyo di jalan Pahlawan Gg. VIII Sampang, MTD Trunojoyo dan masyarakat yang peduli dengan sejarah juga budaya akan melakukan ritual Chok Bhumi di Pababaran Pangeran Trunojoyo dengan agenda yang sudah disiapkan oleh para tokoh budaya dan pengurus MTD Trunojoyo.

Silaturahim dengan Bapak Bupati Sampang dan OPD terkait ijin untuk menempati Pababaran Trunojoyo sebagai salah satu pusat sumber informasi sejarah dan kebudayaan Sampang dan akan dikelola MTD Trunojoyo nantinya.

Banyak situs sejarah dan budaya yang harus digali lebih jauh, banyak hal yang harus dipahami oleh generasi muda masa kini yang milineal, sebagian besar dari mereka harus diketuk hatinya untuk mengenang jasa para pahlawan yang sampai saat ini belum dijadikan Pahlawan Nasional dan melestarikan budaya para leluhur dan memang sangat bermanfaat untuk kita semua ke depannya.

Saat ini Sampang butuh orang yang peduli terhadap nilai-nilai sejarah dan nilai-nilai budaya, utamanya leluhur sendiri, bagaimana kita bisa memahami melestarikan budaya leluhur nenek moyang kita kalau dari sejarah kita pun tidak tahu trah kita sebagai orang yang menginjakkan kaki di tanah leluhur kita dahulu kala.

Salah satu bukti tidak terawatnya cagar budaya Pababaran Trunojoyo menjadi bukti orang yang duduk di kursi eksekutif tidak memahami nilai sejarah dan nilai budaya leluhur, karena mereka tidak bisa menjaga menjaga dan merawat tempat bersejarah leluhur mereka sendiri, kecuali mereka orang luar daerahnya sendiri, padahal itu tugas mereka yang memang harusnya menjaga dan melestarikan, mereka mayoritas lebih tahu dan paham tentang proyek yang bisa menghasilkan fee bagi kelompok atau golongan mereka atau pribadi mereka.

Untuk itu berangkat dari Organisasi MTD Trunojoyo yang ingin menggali dan melestarikan sejarah para leluhurnya, mereka mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan Pangeran Trunojoyo menjadi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Syahrul Romadhon Pemilik Toko di Jalan Trunojoyo ikut terusik dalam Polemik Pangeran Trunojoyo

Sama halnya dengan masyarakat lain warga Sampang yang ternyata banyak juga ikut peduli tentang Pangeran Trunojoyo, namun mereka memilih melihat mengamati dan terus mengikuti perkembangan berita tentang seberapa jauh kepedulian masyarakat kepada Pahlawan Nasional Madura ini yakni Pangeran Trunojoyo.

Salah satu warga yang mempunyai toko di jalan Trunojoyo Syahrul Romadhon mengatakan “tetangga sebelah toko saya ini dikelilingi Jalan nama Nasional, ada jalan Diponegoro, KH. Wahid Hasyim, KH. Hasyim Asyari, Agus Salim, akan tetapi kenapa di tempat saya Jalan Trunojoyo ini bukan Pahlawan Nasional, padahal jelas sejarahnya dan sering dipakai dimana-mana, bahkan kota besar nama Trunojoyo ini, kenapa dan ada apa sebenarnya?, imbuhnya.

Banyak yang mempertanyakan dan banyak yang ingin memahami apa kendala sebenarnya sampai sekarang Pangeran Trunojoyo ini belum dijadikan Pahlawan Nasional, padahal sosoknya membela kebenaran dan keadilan warga Madura dengan VOC dan Kerajaan Mataram yang menjajah rakyat Nusantara.

Disisi lain Bapak Bupati dan Kadis Arsip Daerah sudah mengatakan bahwasanya telah mengajukan pemberkasan Pangeran Trunojoyo ini untuk bisa dijadikan Pahlawan Nasional.

Untuk itu melalui organisasi MTD Trunojoyo ini mari kita terus kumandangkan dengan sering menyebutkan bahwa Pangeran Trunojoyo adalah Pahlawan Kami, gerakan dari bawah ini belum terdengar keras ke atas, butuh massa yang peduli dan ikut andil agar bisa terealisasikan Pangeran Trunojoyo adalah Pahlawan Nasional Indonesia.

Bupati Sampang Mengatakan “Jasmerah”, Terus suarakan fakta kebenaran bahwa Pangeran Trunojoyo layak menjadi Pahlawan Nasional Indonesia

Bupati Sampang dan MTD Trunojoyo

Pada pertemuan waktu itu menjelang dini hari dengan Pengurus Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo, Bapak Bupati Sampang mempertanyakan tentang legalitas organisasi MTD dan visi misi yang diemban, apakah hanya formalitas saja atau hanya wacana saja lembaga ini?, Ini sangat bagus visi misi dan program kerja dalam membantu Pemerintah Daerah, namun jangan dijadikan wacana saja yang menguap begitu saja, ujar Bapak Bupati Sampang.

Dilanjutkan Pertanyaan-pertanyaan untuk menguji sejauh mana pengurus organisasi MTD ini menguasai sejarah, diawali dengan pertanyaan sekitar Pangeran Trunojoyo, dimana Makam Trunojoyo? Kenapa di Yogyakarta tidak ada nama jalan Trunojoyo?

Sembari terjadi dialog antara Bupati Sampang dengan pengurus MTD namun perbincangan berjalan dengan serius santai tanpa dengan hidangan kopi teh juga camilan yang sudah disuguhkan.

Pesan Bupati Sampang, Jangan sekali-kali melupakan sejarah leluhur, kita ini bisa seperti ini adalah berkat dari leluhur kita, kemerdekaan yang kita nikmati adalah hasil dari perjuangan sampai titik nadir para pendahulu kita, salah satunya adalah Pangeran Trunojoyo sampai hari ini kita dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang sudah mengajukan agar Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, kita juga melobi Pemerintah lainnya Provinsi Pusat yang mempunyai kepentingan yang sama.

Pangeran Trunojoyo dianggap sebagai Pahlawan bukan oleh orang Madura saja, namun banyak daerah yang kepentingannya dibela oleh Pangeran Trunojoyo dan itu adalah murni sebuah perjuangan untuk kesejahteraan rakyat, bukan menindas diperas dijadikan sapi perah oleh Amangkurat kerajaan Mataram yang bekerjasama dengan VOC Belanda.

Bagi pengikut kerajaan Mataram dan VOC menganggap Pangeran Trunojoyo adalah pemberontak, karena Pangeran Trunojoyo menghalangi pekerjaan mereka yang mengambil keuntungan tanpa peduli terhadap nasib rakyat kecil yang seenak udelnya dijadikan sapi perah, tanpa diberikan imbalan yang pantas untuk bisa menghidupi keluarga mereka.

Melihat ketidak adilan dan penindasan terhadap rakyat kecil Pangeran Trunojoyo akhirnya mengambil alih untuk menyerang dan menguasai Kerajaan Mataram, dimulai dengan daerah pinggiran yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram yang lokasinya waktu itu di Yogyakarta, makanya sampai sekarang di Yogyakarta nama jalan Trunojoyo tidak ada, karena Pangeran Trunojoyo dianggap sebagai pemberontak.

Untuk itu melalui organisasi MTD yang berbasis Sejarah dan Kebudayaan ikut serta juga masyarakat utamanya Madura bersatu dengan gerakan dari bawah, karena dari atas kita sudah melobi dan mengajukan dengan arsip dan dokumen Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tinggal menunggu waktu saja, imbuh Bapak Bupati Sampang.

Mari untuk mengajak semua pihak berjuang untuk mempublikasikan mendorong pihak-pihak terkait untuk terus menerus bersuara, karena ini fakta sejarah yang tidak boleh dilupakan tentang perjuangan leluhur kita sang Panembahan Madura yang telah banyak mengorbankan dirinya sampai titik darah penghabisan, jangan hanya berwacana saja, mengambil istilah salah satu slogan.. Talk Less Do More.

Sekilas tentang Raden Trunojoyo Panembahan Madura yang harus menjadi Pahlawan Nasional Indonesia

Mungkin banyak rakyat di Indonesia ini tidak begitu banyak tahu tentang siapa Pangeran Trunojoyo, tentang riwayat Pangeran Trunojoyo, dan sepak Terjang Pangeran Trunojoyo memperjuangkan rakyat oleh penguasa Mataram yang bekerjasama dengan VOC.

Sebelum bicara lebih jauh tentang Pangeran Trunojoyo mari kita coba berkenalan siapa sosok Pangeran Trunojoyo Sang Raja Madura.

Raden Praseno yang bergelar Cakraningrat I adalah adipati (Bupati) pertama di Kabupaten Sampang (1624-1648), Raden Praseno mempunyai beberapa istri dan mempunyai 11 putra dan putri, anak ke-3 bernama Raden Mloyo Kusumo yang melahirkan anak bernama Raden Trunojoyo.

Pangeran Trunojoyo dilahirkan di Sampang Madura, dibuktikan dengan Ari-ari nya ada di Pababaran Jalan Pahlawan Gg. VII Sampang, Nama kecil pangeran Trunojoyo dikenal dengan nama Raden Nila Prawata, beliau dikenal anak yang cerdas dan peduli terhadap sesama, tidak bisa melihat orang tertindas atau teraniaya, Pangeran Trunojoyo adalah pemuda penganut agama Islam yang taat dan jiwanya akan bergejolak melihat ketidak adilan dan penindasan terhadap rakyat kecil di Jawa maupun di Madura.

Pemberontakan Trunojoyo dimulai dari ia sering melihat penindasan dan ketidak adilan terhadap rakyat kecil, masa pemerintahan waktu itu beralih pimpinan oleh anak raja Kerajaan Mataram yaitu Susuhunan Amangkurat I (Anak Sultan Agung), sedangkan di Sampang dipimpin oleh Pamannya yakni Pangeran Undagan yang bergelar Cakraningrat II.

Pada masa pemerintahan waktu itu tidaklah seperti raja dan adipati sebelumnya yang lebih bisa memberikan keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya, sangat berbanding terbalik karena berhasil dihasut oleh VOC untuk merongrong rakyat kecil untuk bekerja diambil hasilnya tanpa mendapatkan apapun dari apa yang dilakukannya.

Dan pada akhirnya membuat jiwa pangeran Trunojoyo bergejolak untuk memberontak pada Kerajaan Mataram, satu persatu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram diambil alih oleh Pangeran Trunojoyo dibantu oleh orang-orang yang juga tertindas oleh Kerajaan Mataram, hingga pada akhirnya Pangeran Trunojoyo berhasil dilumpuhkan dan mati yang konon di tangan pamannya sendiri dari Kerajaan Mataram yang bekerjasama dengan VOC.

Dari cerita singkat diatas Pangeran Trunojoyo patut untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena membela kebenaran dan keadilan untuk rakyatnya sendiri.

Namun realitanya sampai saat ini Pangeran Trunojoyo belum bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, padahal Bupati Sampang dan bupati terdahulunya sudah mengajukan dengan bukti dokumen dan juga arsip untuk menunjang agar Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan Pahlawan Nasional Indonesia.

Sangat ironi memang sudah puluhan tahun yang lalu diajukan, namun sampai saat ini belum juga dijadikan sebagai Pahlawan Nasional, bahkan Ibu Gubernur Khofifah dan ketua Madoera Tempo Doeloe juga sudah membantu mengajukan Pangeran Trunojoyo untuk bisa dijadikan Pahlawan Nasional.

Ada satu hal yang menarik dari orang Arsip Daerah Sampang Bapak Sudarmanto dan bapak Fathor Rosi, beliau mengatakan sudah lama mengirim Arsip ke pusat sebagai bukti otentik tentang Pangeran Trunojoyo untuk bisa dijadikan Pahlawan Nasional Indonesia, dan ini kemungkinan besar adalah pengaruh Pemimpin Negeri ini yang mayoritas berasal dari Jawa hingga Pangeran Trunojoyo selama dipimpin oleh orang Jawa tidak bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, karena oleh turunan Kerajaan Mataram sampai sekarang Pangeran Trunojoyo adalah sebagai pemberontak.

Untuk itu penulis sebagai orang yang berasal dari Madura dan melalui organisasi yang sangat peduli terhadap sejarah dan seni budaya melalui Madoera Tempo Doeloe dan Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama (Lesbumi) mengajak masyarakat pada umumnya untuk bersama berbondong-bondong dengan terus menekan dan menanyakan perkembangan Pemerintah Daerah Provinsi maupun Pusat untuk segera menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Sampang Kaya dengan Sejarah Ulama dan Umaro’

Belajar sejarah tidak serta merta kita menjadi syirik dengan budaya waktu itu yang mungkin tidak sama dengan budaya sekarang ini, atau agama yang berbeda di masa yang sudah lampau, salam dan tawasul mendoakan para leluhur kita, hingga bisa meneruskan tugas yang belum selesai di waktu itu dan mendapatkan barokah untuk kebaikan turunan kita nantinya bisa lebih baik.

Mungkin itu yang bisa disimpulkan diskusi kecil-kecilan dengan para tokoh budayawan MTD Trunojoyo Sampang, Bapak Afandi dan Bapak Haji Daiman juga Ketua MTD Trunojoyo Raden Achmad Fauzan dengan suguhan seadanya yakni kopi hitam dan camilan kacang di Lencak.

Dari hasil koleksi buruan Bapak Afandi banyak ditemukan Buku-buku yang hampir punah, ada 100 lebih koleksi buku dan akan bertambah terus, beberapa pusaka juga uang jaman terdahulu turut menjadi koleksi Bapak Afandi, Bapak Haji Daiman pun dengan banyak koleksi pusaka-pusaka bersejarah melengkapi untuk mengadakan Pameran di Kabupaten Sampang nantinya.

Dari apa yang sudah diperbincangkan banyak hal, ternyata situs-situs dan Makam yang dianggap keramat terdahulu banyak di Kabupaten Sampang, dibuktikan juga oleh tim Arsip Daerah Sampang yang menelusuri dan mendokumentasikan situs dan makam tersebut, ditemukan sekitar 300 lebih, ini sangat membuktikan bahwa Sampang adalah awal mula orang Madura berada pertama kali.

Dari Raden Segoro dan Ibunya yang dibantu Kiai Poleng itu lokasinya terletak di Banyuates Kabupaten Sampang, itu menurut banyak versi sejarah manusia pertama yang hidup pertama di tanah Madura, dari sana mulai berkembang dan beranak pinak di daratan Madura yang waktu dipisah oleh 2 gunung yakni gunung Geger Bangkalan dan Gunung Pajudan Sumenep.

Ini sangat ironi dan berbanding terbalik apa yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Imam Sanusi yang menyampaikan bahwa di Kabupaten Sampang sangat sedikit peninggalan situs bersejarah, tidak seperti Sumenep yang kaya situs bersejarah imbuhnya, apa yang dilontarkan oleh Bapak Imam Sanusi otomatis terbantahkan dengan pembicaraan Bapak Afandi dan Bapak Haji Daiman yang kaya dengan referensi dari sumber langsung orangnya maupun sumber dari hasil penelusuran serta buku.

Sampang mempunyai banyak tokoh-tokoh para raja dan juga tokoh ulama, bahkan ada ulama yang juga umaro’, Banyak yang harus digali lebih jauh lagi oleh para pecinta sejarah dimana seperti leluhur kita mengajarkan kepada kita, jangan lupakan sejarah untuk bisa saling menyambung sanad keilmuan untuk bisa lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta Alam semesta.

MTD Trunojoyo Koordinasi dengan Dinas Terkait Arsip dan Kebudayaan


MTD Trunojoyo Sampang adalah sebuah organisasi yang bebasis Sejarah dan kebudayaan, dengan visi misi meluruskan sejarah dan melestarikan budaya tanah leluhur yang sudah hampir punah karena kontaminasi budaya asing.

MTD Trunojoyo Sampang berperan untuk membantu program Pemerintah yang mempunyai tujuan yang visi dan misi sama yakni Melestarikan Kebudayaan dan Mengarsipkannya, seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan Dinas Arsip Daerah utamanya di Kabupaten Sampang.

Perkembangan Teknologi semakin cepat kita bisa berinteraksi dengan dunia luar, dari perkembangan chatting, meeting semua bisa dilakukan dalam satu wadah gadget dan telepon pintar, dengan adanya internet begitu sangat mudah kita mengakses semua informasi yang dibutuhkan, namun sangat disayangkan generasi saat ini lebih banyak tertarik pada game dan jejaring sosial lainnya daripada browsing tentang pengetahuan baru yang tidak mereka tahu dan ingin tahu, utamanya adalah sejarah dan kebudayaan leluhurnya sendiri.

Pada kesempatan di hari selasa tanggal 7 Juli 2020 MTD mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Dinas terkait berhubungan Arsip Daerah dan Kebudayaan, mereka sangat responsif dan menerima kami sebagai Mitra untuk bisa saling melengkapi, bahkan MTD ditawarkan untuk merawat dan membenahi bahkan dituntut untuk bisa mendokumentasikan ke dalam foto maupun tulisan situs-situs yang sudah ada.

Salah satu yang menjadi kekurangan dan pertimbangan MTD Trunojoyo adalah kurangnya pengarsipan yang berhubungan langsung dengan sejarah, untuk itu butuh referensi dari luar Kabupaten Sampang terkait sejarah ataupun budaya untuk bisa melengkapi yang akan ditulis nanti hingga bisa di dokumentasikan ke dalam buku atau digital.

Tentang Madoera Tempo Doeloe dan Sumenep yang terpisah dari MTD

Logo Madoera Tempoe Doeloe

Madura adalah salah satu pulau yang terletak diujung timur Jawa dan merupakan bagian dari Provinsi Jawa Timur, Madura terdiri dari 4 Kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, jumlah penduduknya sekitar 3,6 Juta, luas pulau Madura kisaran 5200 Km2, kepadatan penduduk sekitar 700 Km2/jiwa.

Pendirian organisasi berbasis kebudayaan Madoera Tempoe Doeloe adalah salah satu bentuk kepedulian orang-orang Madura masih menghargai para leluhur terdahulu, melestarikan budaya dan kebudayaan bahwa leluhur kita dengan susah payah memperjuangkan tanah kelahirannya dari penjajahan dunia, peperangan, pemberontakan menjadi sebuah bentuk perlawanan para leluhur mempertahankan harga diri dan tanah milih kita.

Sebuah kesan dan pesan dari nenek moyang kita untuk anak cucunya nanti bisa menjadi lebih baik lagi, untuk itu kita yang muda butuh mendoakan para arwah leluhur dan belajar darinya tentang perjuangan bangsa, tentang kemerdekaan dan kebebasan kita hari ini adalah bentuk perjuangan oleh nenek moyang kita, belajarlah dari pendahulu kita tentang makna kehidupan dan arti perjuangan, karena itu akan membuat jiwa nasionalisme kita dalam satu tujuan dan melanjutkan perjuangan mereka yang belum selesai.

Bapak Hasbullah adalah satu pendiri Madoera Tempoe Doeloe sekaligus Ketua umum Madoera Tempoe Doeloe, inisiatifnya adalah mengajak orang-orang yang masih peduli terhadap sejarah dan budaya serta perkembangan Madura ke depannya, semua orang berkumpul di dalam satu wadah organisasi Madoera Tempoe Doeloe ini yang disingkat dengan MTD.

MTD didirikan pada tanggal 4 Mei 2019 dihadiri perwakilan tokoh Madura bertempat di Unira, sedangkan SK Menkumham keluar pada tanggal 17 September 2019, seharusnya ada 4 Kabupaten yang harus ada cabang kepengurusan sesuai dengan 4 Kabupaten yang ada di Madura yakni di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, namun Kabupaten Sumenep tidak ada kepengurusan MTD, cukup disayangkan karena ternyata Kabupaten Sumenep memilih memisahkan diri dengan nama yang berbeda yakni Sumenep Tempo Doeloe.

Tidak bisa kita saling menyalahkan satu sama lain bahwasan satu-satunya Kabupaten di Madura yang tidak ada kepengurusan MTD adalah Kabupaten Sumenep, mungkin disana sudah terlebih dahulu terbentuk hingga tidak ingin mengikuti yang baru berdiri.

Disisi lain ada expansi kepengurusan MTD diluar Kabupaten Madura, orang Madura yang berdomisili di luar kota Madura, salah satunya adalah yang dikenal dengan Pak Setia atau Haji Eka, beliau asli Pamekasan besar di Bangkalan sekarang berdomisili di Surabaya dan Sidoarjo, sekarang menjabat ketua MTD Sawunggaling di Surabaya.

Setiap Kabupaten di Madura mempunyai nama yang berbeda dalam penamaab Madoera Tempoe Doeloe, Bangkalan dikenal dengan MTD Lemah Duwur yang diketuai oleh Bapak Karsono, Sampang dikenal dengan nama MTD Trunojoyo yang diketuai oleh Bapak R. Achmad Fauzan, dan di Pamekasan dikenal dengan MTD Pamekasan Hebat yang diketuai oleh Bapak Iwan.

Madura adalah tempat lahir kita, tempat para leluhur kita, tempat dimana kita menginjak dan bernafas dalam tanah yang sama, mari kita satukan visi dan misi demi masa depan anak cucu kita bisa menjadi lebih baik, mari kita gali potensi tanah Madura menjadi kota Pariwisata dan mari kita lestarikan situs sejarah budaya kembali, Perkenalkanlah pada mereka para generasi muda anak cucu kita, bilang ke mereka Jasmerah (Jangan lupakan Sejarah).