Mengenal sosok Nyai Hayati Waladi “Kartini Masa Kini” Srikandi MTD Trunojoyo

Nyai Hayati Waladi

Di Kota Sampang siapa yang tidak mengenal Nyai Welad (panggilan akrab) dengan puluhan racikan ramuan jamu Madura asli, dikenal dengan Kartini masa kini yang berjuang sendiri untuk menghidupi keluarga.

Madura Sari adalah nama perusahaannya dengan varian produk jamu untuk kesehatan pria maupun wanita sanggup menjelma menembus pasaran Nasional, terbukti banyak sudah orang membeli produk ramuan Madura sampai ke pelosok negeri ini, karena Madura sari mampu memproduksi dan memberikan khasiat dasyat bagi semua orang yang meminumnya, utamanya yang laris adalah untuk ramuan pasangan suami istri.

Selain dikenal sebagai pengusaha Nyai Welad dikenal sebagai Srikandi Bapak Bupati Sampang yang saat ini dipimpin oleh Haji Slamet Junaidi, selain sebagai pendukung setia Bapak Bupati saat ini, Nyai Welad sudah kenal baik karena sama-sama punya latar belakang pengusaha.

Sosok Nyai Welad dikenal sangat dermawan untuk memberikan bantuan terhadap orang yang membutuhkan, salah satu contoh ia adalah salah satu donatur yang tidak habis-habisnya memberikan sumbangsih tehadap Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo, itu yang baru kelihatan kedermawananya, banyak hal yang dilakukan oleh nyai Welad dan tidak kelihatan banyak orang.

Sosok orang tua tunggal bagi anak-anaknya Nyai Welad mampu memberikan segala sesuatu kebutuhan pendidikan kepada anak-anaknya, sosok perempuan yang sangat jarang ditemukan di bumi Pertiwi ini, Nyai Welad layak menjadi simbol Kartini Masa kini yang mampu menembus batas Emansipasi wanita.

Bangunan dan benda bersejarah di Museum Sampang sudah harus dibenahi untuk menjadi Sampang Hebat Bermartabat

Museum Sampang

Kunjungan Pengurus MTD Trunojoyo Sampang ke Museum Sampang sebenarnya tidak ada dalam rencana sebelumnya, Museum ini terletak di sebelah selatan kota Sampang, tepatnya kota tua bekas Kerajaan terdahulu yang beralamat di jalan Mangkubumi.

Museum ini dibangun sejak Pemerintahan Bupati Noer Cahya sekitar tahun 2010, bangunannya dari luar nampak bukan seperti Museum seperti pada umumnya yang kita lihat di kota lain, namun bangunannya lebih bmseperti kantor pada umumnya,

Nampak didalam ruangan hanya ada beberapa foto mantan Bupati yang tampak kusam dan berdebu, dan ada beberapa pusaka yang konon pinjaman dari penduduk sekitar, ada juga barang yang seharusnya ada di Pababaran Trunojoyo.

Bapak Bagus sangat menyayangkan ketika berkunjung ke Museum tersebut, kenapa foto mantan Bupati yang masih hidup sampai saat ini kenapa masuk Museum?, sangat tidak etis seharusnya Museum adalah tempat benda bersejarah yang dipamerkan, kenapa bisa ada foto mantan Bupati, masih hidup lagi, sangat disayangkan, imbuhnya.

Harus ada kajian ulang tentang regulasi dari bangunan, benda dan foto ataupun juga buku bersejarah yang bisa masuk Museum, penataan benda harus sesuai dengan ditambahkan deskripsi, ini termasuk ranah dinas mana yang harus bertanggung jawab, tugasnya siapa yang nanti bisa membenahi penyimpanan benda sejarah.

Yang dibutuhkan saat ini adalah membenahi sistem dan membenahi orang-orangnya dengan kesadaran penuh makna dari sejarah dan budaya warisan leluhur tanpa harus menyalahkan siapapun, ujar Haji Daiman, semua orang pernah salah, akan tetapi kita harus belajar dari kesalahan dan bisa segera membenahi dan memperbaiki untuk kepentingan masyarakat umum nantinya, imbuhnya.

Perlu dikembalikan lagi pusaka pada tempat asal mulanya, Museum yang ada saat ini harusnya dirubah bangunannya dan isi penyimpanan benda purbakala, sepertinya di Pababaran Trunojoyo salah satu tempat yang layak bisa dijadikan Museum, kalau pun Pemerintah Daerah ada tempat yang lain untuk Museum, peninggalan asli Trunojoyo harus dikembalikan kepada tempatnya di Pababaran Trunojoyo Sampang, imbuhnya Haji Daiman.

Mengenal Tokoh Budayawan Buchori Sang “Sastrawan” MTD Trunojoyo

H. Daiman dan Bapak Buchori

Banyaknya tokoh yang low profile membuat publik tidak banyak tahu siapa yang disebut tokoh sejarah dan tokoh budaya, mereka lebih banyak berdiam diri tanpa harus orang banyak tahu tentang dirinya, berkarya dan terus berkarya dengan hasil nyata dan bisa bermanfaat bagi orang lain.

Salah satunya adalah Bapak Buchori, siapa sangka sosok ini mempunyai banyak karya sastra yang tertulis tangan dan hanya beberapa saja yang berhasil diterbitkan kerjasama dengan penerbit Bogor, bertempat tinggal lumayan jauh dari perkotaan tidak menghalangi ia untuk berkarya membuat puisi, novel dan banyak lainnya tentang sastra.

Buku yang dihasilkan Bapak Buchori banyak menceritakan tentang pengalaman hidupnya yang penuh dengan lika-liku, bagaimana orang Madura dilihat sinis oleh orang luar Madura, Ia menulis dan membuktikan bahwa orang Madura tidak seperti orang luar Madura persepsikan tentang orang Madura yang katanya keras, suka carok dan lain sebagainya, dengan sebuah karya tulis melalui buku Bapak Buchori ingin menyampaikan kepada publik bahwa orang Madura, budaya Madura tidak seperti yang dibayangkan oleh mereka yang melihat hanya sisi luarnya saja.

Ketika menceritakan proses pembuatan sebuah karya tulis, ia melanjutkan mengisahkan bahwa ia bisa menulis ketika waktu senggang saat berdiam diri dan tidak ada melakukan pekerjaan yang dilakukan, hampir setiap hari waktu luangnya digunakan untuk membuat karya tulisan dengan variasi tema tentang kehidupan, cinta, budaya dan sejarah.

Selain menulis Bapak Buchori mempunyai banyak koleksi barang antik dan pusaka lainnya, konon barang yang didapatkan tidak sengaja ia temukan, karena banyak yang datang melalui mimpi dan datang dengan sendirinya, batu dorpal, keris juga tombak menjadi bagian koleksinya.

Setelah ditelusuri ternyata sanad keturunan Bapak Buchori tidak terlepas dari leluhurnya yang memang keturunan orang penting di jamannya, seperti yang sekarang masih ada hubungan saudara dengan H. Hisan dan Kepala Desa Paseyan yang saat ini menjabat, semua terbuka ketika Haji Daiman melakukan kunjungan ke kediaman Bapak Buchori yang juga merupakan bagian organisasi Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo.

Sampang sudah seharusnya menjelma menjadi Kabupaten Sampang yang Hebat Bermartabat, optimalisasi anggaran dan program tepat sasaran satu pintu

Pababaran Trunojoyo Tempo Dulu

Sampang merupakan salah satu Kabupaten di Madura, Sampang menurut peta adalah kabupaten paling kecil se Madura, dari riwayat yang paling tua adalah Madegan yang terletak di jalan Mangkubumi atau terletak di selatan kota Sampang, Madegan menjadi satu-satunya cagar budaya warisan leluhur kerajaan yang masih ada di Kabupaten Sampang.

Menjadi pecinta sejarah dan budaya adalah hal yang sangat langka di jaman saat ini, hanya bisa dihitung dengan jari orang yang mau belajar dan melestarikan budaya warisan leluhurnya, sepertinya memang dari generasi ke generasi semakin jauh dari mengenal jati diri leluhurnya, sungguh sangat ironi memang mayoritas masyarakat Sampang tidak paham dengan sejarah leluhurnya sendiri.

Sangat terbukti ketika perlahan mulai terkuak peradaban yang ada sekarang, banyak situs dan cagar budaya sangat tidak terawat padahal tiap tahun dianggarkan oleh Pemerintah Daerah, namun realisasinya mulai jaman terdahulu tidak optimal.

Banyak dana yang diselewengkan untuk kepentingan pribadi atau golongan, banyak oknum yang menganggarkan program kerja hanya asal-asalan dengan tujuan yang tidak jelas hanya untuk mencari keuntungan, bukan untuk tujuan bagaimana Kabupaten Sampang ini bisa hebat bermartabat dengan sejuta pesona sejarah dan budaya.

Salah satu Pababaran Trunojoyo adalah satu-satunya situs sejarah peninggalan Pangeran Trunojoyo, sekarang baru akan dirawat oleh Pemerintah Daerah yang sebelumnya hanya dijadikan penitipan tempat barang oleh masyarakat sekitar, karena ketidakpahaman pemangku kebijakan dan masyarakat hingga mereka tidak menghargai warisan leluhur yang berjuang melawan kolonial penjajah.

Keberadaan Pababaran Trunojoyo harus terus digaungkan dan di publikasikan secara umum karena nilai sejarah budaya sangat tidak ternilai harganya, keberadaan Pababaran Trunojoyo adalah bukti bahwa Sampang punya pahlawan Nasional, Pababaran Trunojoyo merupakan simbol perjuangan yang tidak

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan jasa dan perjuangan Pahlawannya, ini akan sangat mempengaruhi generasi kita selanjutnya untuk bisa bangga dengan para pejuang pahlawan membela kebenaran dan keadilan di tanah ibu pertiwi.

Semua tempat yang berhubungan dengan tempa situs, cagar budaya, sejarah dan budaya Sampang harus mulai difungsikan dengan baik, yang belum ada deskripsi tentang benda sejarah sudah harus mulai dibuat agar informasi lebih mudah diketahui publik dengan sumber yang benar, jadi informasi tentang Sampang bisa satu pintu, tempat wisata religi, tempat pariwisata juga menjadi satu pintu, tunjukkan bahwa Sampang Hebat Bermartabat dengan pesona auranya.

Untuk bisa merealisasikan itu semua butuh kerjasama semua pihak, utamanya adalah Pemerintah Daerah yang berkaitan, tunjukkan bahwa orang Pemerintah itu peduli dan ingin membenahi Kabupaten Sampang ini, tidak ada yang lebih baik kecuali memberi manfaat kepada masyarakat banyak.

Mengenal Srikandi MTD Trunojoyo yang dipimpin oleh Nyai Hayati Waladi (Madura Sari)

Srikandi MTD Trunojoyo Sampang

Perjuangan seorang tokoh-tokoh Nasional tidak lepas dari seorang perempuan dimana dari jaman terdahulu sangat mempengaruhi para pejuang laki-laki namun kaum perempuan berjuang dibalik layar, meskipun secara tidak langsung dalam memperjuangkannya, posisi perempuan cukup signifikan dalam membantu berdirinya sebuah bangsa.

Seperi saat ini di Pababaran Trunojoyo Srikandi yang dipimpin oleh Nyai Hayati Waladi pemilik Madura Sari tergabung dalam organisasi Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo sangat memberikan sumbangsih untuk bisa suksesnya organisasi ini berjalan dengan baik, dan dalam hal ini Nyai Waladi adalah sosok yang banyak memberikan bantuan dalam rangka mempersiapkan acara Tirakatan di malam HUT RI Ke-75 di Pababaran Trunojoyo.

Rangkaian acara ini tidak lepas dari acara sebelumnya Chok Bhumi dan pernyataan sikap MTD Trunojoyo memperjuangkan Pangeran Trunojoyo menjadi Pahlawan Nasional yang dibacakan secara teatrikal oleh Bapak Haji Daiman, ada sosok Nyai Welad yang telah memberikan banyak bantuan konsumsi kepada para tamu undangan.

Gerakan MTD Trunojoyo ini adalah gerakan budaya dan gerakan moral, menjadi anggota MTD adalah sebuah gerakan abdi perjuangan budaya dan akan sangat mempengaruhi kepribadiannya, dan akan sangat bermanfaat bagi yang memberikan manfaat terhadap organisasi ini, karena memang berangkat dari keikhlasan dan keinginan luhur demi Sampang yang Hebat Bermartabat.

Kedatangan Srikandi MTD Trunojoyo sangat memberi arti dan kekuatan untuk sukseskan acara Perjuangan, mereka adalah Yuli, Bu Siana, Hj. Kiptiyah, Nur Azizah (Umi Sisi) Walimatus Sakdiyah, Bu Surawati dan Homsatun, mereka sangat peduli dan akan membantu dalam acara Tirakatan Malam HUT RI Ke-75 nanti di Pababaran Trunojoyo Sampang.

Srikandi MTD Trunojoyo Sampang adalah simbol emansipasi wanita masa kini dalam membantu Kesuksesan acara dan memperjuangkan bersama untuk Pangeran Trunojoyo menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.

Apakah anda hanya memanfaatkan MTD ini? Atau memberi manfaat?

Manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial kelak akan mempertanggung jawabkan apa yang dilakukannya kepada diri dan orang disekitarnya juga alam semesta ini, begitulah hukum causalitas hukum sebab akibat kehidupan.

Ada siang ada malam, ada panas ada juga dingin adalah hukum dualitas kehidupan, positif dan negatif akan selalu menyertai sisi kehidupan manusia yang secara alamiah memang harus seperti itu, seperti apa yang dikatakan pepatah sebaik-baiknya manusia pasti akan ada sifat buruknya, begitu sebaliknya seburuk-buruknya manusia pasti ada sifat baiknya.

Seperti apa yang kita lakukan hari ini akan menuai hasil dikemudian hari, begitu juga apa yang kita lakukan terhadap organisasi Madoera Tempo Doeloe ini, memanfaatkan organisasi atau memberi manfaat terhadap organisasi ini, semua akan terjawab nanti dikemudian hari, karena tidak satupun manusia terlepas dari hukum sebab akibat yang dikenal dengan karma, tinggal kita memilih sebagai orang yang dikenang dan terkenang baik atau memilih orang yang hanya yang dikenang dan terkenang tidak baik, suatu saat akan terjawab.

Sumbangsih ide pemikiran sangat dibutuhkan untuk perkembangan suatu organisasi menjadi lebih baik, arah dan tujuan untuk khalayak banyak sangat dinantikan, sebaik baiknya organisasi ini adalah memberi manfaat terhadap jasa leluhur, orang sekitar dan generasi kita selanjutnya.

Jika anda punya ilmu yang bisa dimanfaatkan untuk sumbangsih organisasi silahkan ambil peran, jika anda punya pengaruh dan pemegang kebijakan publik silahkan ikut andil untuk bisa memberikan kelancaran jalan organisasi, jika anda punya materi lebih untuk bisa dimanfaatkan berilah sedikit saja untuk bisa dimanfaatkan, organisasi ini butuh pemikir dan donatur untuk pengembangan dan pelaksanaan kegiatan agar bisa dimanfaatkan khalayak banyak.

Semua orang punya kepentingan untuk pribadi dan golongan, semua orang ingin dikenal dan dikenang, namun semua harus disertai nilai-nilai luhur untuk kemaslahatan orang-orang disekitar kita, karena sejarah budaya bangsa Indonesia merupakan pusat peradaban dunia.

Organisasi Madoera Tempo Doeloe tidak bisa solid dan berkembang jika hanya menjadi sarana kepentingan perseorangan

Logo Madoera Tempo Doeloe

Melestarikan dan mengembangkan objek wisata di Madura merupakan salah satu visi misi organisasi Madoera Tempo Doeloe, banyak anggota yang tergabung dalam akun media sosial di FB ataupun WA grup, Orang-orangnya pun dari berbagai daerah luar Madura juga banyak.

Namun hanya beberapa orang saja yang peduli terhadap sejarah budaya dan mengembangkan objek wisata di pulau Madura, banyak dari anggota yang ingin mengambil keuntungan pribadi ataupun golongan dari grup Madoera Tempoe Doeloe ini, karena memang mereka pada dasarnya bukan pecinta sejarah dan budaya, hanya ikut untuk mencari peluang, jadi sangat dimaklumi ketika mereka sangat materalis.

Dari berbagai elemen masyarakat tidak satu padu dalam satu grup Madoera Tempo Doeloe, banyak variasi dalam postingan mereka, ada hal yang berbau lucu, kuliner (yang tidak ada hubungan dengan khas Madura), bahkan politik yang mengandung SARA, sehingga tidak jarang admin kadang bingung dengan sendiri, sangat dilematis bagi admin grup disisi lain butuh anggota grup aktif, disisi lain tidak etis ketika grup harus tercemar oleh materi yang tendensi memecahkan antar anggota.

Tidak solidnya anggota grup di Madoera Tempo Doeloe ini dibuktikan tidak satu suara menyuarakan postingan tentang Pangeran Trunojoyo yang sudah dianggap Pahlawan oleh orang Madura karena melawan penjajahan VOC dan Kerajaan Mataram, petisi yang dibuat pun hanya beberapa yang menandatangani dari 20 ribuan anggota hanya 35 yang mau menandatangani, sangat miris grup ini yang diisi oleh kaum yang tidak peduli dengan sejarah dan budaya sendiri.

Mungkin butuh proses yang panjang untuk bisa menyatukan visi misi organisasi besar Madoera Tempo Doeloe, harus dimulai dari pengurus pusat selalu sosialisasi kan program kerja dan visi misi mengajak untuk peduli pada budaya warisan leluhur agar orang lebih memahami lebih jauh dan mendalam jati diri orang Madura, sangat ironi jika anggota dan pengurus di MTD ini tidak memahami sejarah dan budaya leluhur.

Pertemuan kita disini adalah sebuah takdir Ilahi

Penduduk di dunia sudah hampir tidak bisa dihitung dengan jari, di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 250 juta penduduk, belum di negara-negara lain yang mencapai milyar penduduk seluruh dunia, semua terpetak terkotak dalam satu bumi dan satu atap langit.

Sebuah rahasia ilahi sampai saat ini kita sebagai manusia telah dikotak-kotakkan oleh hal yang materialistis dipertemukan dalam satu kesatuan di bumi sebagai salah satu planet yang mempunyai kehidupan.

Sudah menjadi rahasia umum setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah hukum alam dualitas kehidupan, suatu saat kita semua akan dihadapkan pada dua pilihan hidup, ditinggalkan atau meninggalkan.

Itu adalah takdir dari Ilahi yang kadang tersembunyi tanpa kita sadari, bagi yang tidak memahami itu merupakan sebuah tragedi yang mungkin tidak akan berhenti, bagi yang sudah memahami itu merupakan bagian dari kehidupan yang harus dilalui oleh setiap insani.

Tidak ada kata lain pertemuan kita di hari ini merupakan hasil sebuah proses menjadi frekuensi yang sama, satu visi satu misi, banyak yang harus kita lalui dengan berdiskusi untuk mencapai menggapai apa yang yang belum terobati bathin yang sudah lama tidak terisi oleh cinta kasih murni.

Segala sesuatu di bumi adalah titipan sang Ilahi untuk mengantarkan kita pada suatu nilai kasih, bukan materialis yang semakin mengikat kita pada hal yang bukan milik kita secara hakiki.

Suatu saat kita akan mengerti memahami esensi dimensi kehidupan ini, buka hati buka diri untuk suatu hal yang alami mengisi ruang takdir yang digariskan oleh sang Ilahi.

Orang Madura harus menjadi ASLI Madura, MTD harus mengambil Peran

Bahasa Madura menjadi banyak perhatian dari tokoh budaya Madura, seperti Bapak Bustomi dan Bapak Haji Daiman, orang Madura tapi bukan Madura, istilah yang cocok mungkin, karena mayoritas orang Madura seringkali salah dalam berbahasa tutur halus pengucapan apalagi dengan penulisan yang ada disertai tanda bisat.

Baru saja bahasa Daerah dijadikan pelajaran muatan lokal di sekolah setingkat SMA/SMK, referensi dan literasi sangat jarang dijumpai hingga kadang guru pengajarnya pun belum bisa menggunakan bahasa Madura dengan baik dan benar, apalagi menggunakan penulisan bahasa Madura dan penulisan anacaraka akan menjadi sangat sulit.

Butuh sosialisasi terus menerus dan berkesinambungan agar bahasa Madura ini menjadi sangat familiar di masyarakat, tingkatan bahasa dalam berbicara dengan sesama atau orang yang lebih tua jelas harus bisa dibedakan di masyarakat umum, karena menyangkut etika dan budi pekerti luhur terutama generasi muda masa kini.

Tidak ada yang tidak bisa jika sosialisasi ini masif dalam pemerataan menggunakan bahasa Madura yang notabene adalah bahasa kita sendiri, orang Madura harus menjadi orang Madura, dengan cara melestarikan bahasa, tata krama (Perilaku), sejarah dan budaya orang Madura, jangan sampai menjadi orang Madura akan tetapi tidak memahami Madura itu sendiri, ciri khas dan jati diri adalah menjadi kunci kita adalah orang Madura asli.

Pentingnya peran Pemerintah Daerah untuk bisa mendorong melestarikan dan mewajibkan bahasa daerah masing-masing, sosialisasikan wajib bisa berbahasa Madura dengan baik dan benar dimulai dari tingkat Sekolah Dasar, mungkin dengan cara sering diadakan lomba puisi, pantun, pidato dengan bahasa Madura, butuh kesadaran semua pihak utamanya orang Madura dalam membangun menggali dan melestarikan budaya Madura.

Tokoh Budaya Madura Bapak Bustomi dan Bapak Haji Daiman harus mengambil peran ditengah gurun padang pasir yang membutuhkan setetes air untuk menghilangkan dahaga masyarakat pada umumnya, generasi sekarang tidak mengerti dan kemahiran budaya dan bahasa Madura dikarenakan tidak ada gerakan yang masif memberikan informasi agar bisa mereka belajar kembali warisan budaya bahasa leluhurnya, beliau berdua bisa menjadi partner membuat grand design untuk melestarikan bahasa budaya Madura melalui Madoera Tempo Doeloe.