











































Tidak Dikategorikan
Momentum Rokat Tase’ | Ritual Sedekah Laut Masyarakat Ju’lanteng | LESBUMI NU SAMPANG

Pelestarian budaya sedekah laut yang dikenal dengan nama Rokat Tase’ adalah salah satu budaya yang sangat familiar di kelurahan Banyuanyar Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang, acara ini rutin dilakukan setiap tahun oleh keluarga besar Abah Husni dan putranya Abah Daiman yang dikenal dengan nama Hj. Diya.
Sabtu, 5 November 2022 adalah momentum yang tepat untuk dilakukan ritual rokat tase’ ini, sesuai dengan pakem dari para leluhur, diawali khotmil Qur’an sebelumnya oleh masyarakat sekitarnya, dilanjutkan pelarungan sesaji yang tentunya sudah didoakan oleh para tokoh masyarakat.
Salah satu tujuan diadakan rokat tase’ selain melestarikan budaya ini, adalah bersedekah kepada ikan yang ada di laut, memberikan makan kepada ikan-ikan yang ada di lingkungan sekitar, agar para nelayan yang memang sudah menjadi profesi sehari-hari mudah mendapatkan ikan sebagai sumber rejeki mereka.
Ini sebagai bentuk kepedulian masyarakat Ju’lanteng yang memang ada ritualnya sejak dahulu kala, sejak jaman leluhur sebagai bentuk simbolik sedekah kepada ikan di laut, meskipun dengan acara cukup sederhana, Kapolsek Sampang dan MTD Trunojoyo sebagai organisasi yang bergerak di pelestarian budaya, ikut andil memeriahkan acara ritual budaya ini dengan masyarakat Ju’lanteng Kelurahan Banyuanyar Kecamatan Sampang kabupaten Sampang.
Cukup meriah dan sangat berkesan ketika momentum Rokat Tase’ ini diiringi oleh 3 kapal yang menghantar pelarungan sesaji yang sudah disiapkan, suasana di tengah laut cukup sunyi ketika saat akan dilarungkan, diawali dan dipimpin doa oleh Gus Akas Suadi sebagai ketua MTD Trunojoyo, setelahnya sholawat berkumandang bersama-sama dengan masyarakat lainnya, dan sesaji pun siap dilarungkan oleh tim masyarakat yang ditunjuk untuk terjun berenang ke laut, acara diakhiri mengelilingi sesaji yang sudah dilarungkan sebanyak 3 kali dengan kapal.
Pengabdian Ibu & Negara sepanjang masa | Kisah klasik insan manusia

Sebuah pertemuan adalah sebuah awal kisah tentang kita, proses persahabatan, kekerabatan terjalin setelah beberapa lama kita melalui suka duka bersama, kadang rasa begitu manisnya, kadang sebaliknya pahit terasa, begitulah kehidupan yang sering kita lalui bersama, gesekan terkadang itu yang membuat kita semakin dewasa hingga tercipta hati akan merindukan tentang hal itu.
Seperti yang sering kita dengar, Berharganya sebuah perpisahan ketika kita akan berpisah, seperti yang terjadi saat ini kita merasakan kehilangan orang yang sering kali bersama kita, tangisan, kesedihan seringkali kita rasakan, hanya rasa itu sendiri yang bisa merasakan semua, kita tidak bisa mengukur tentang apa yang kita rasakan dengan ungkapkan kepada semua orang melalui Kata-kata, karena rasa hanya bisa dijelaskan dengan rasa itu sendiri.
Awal mendengar pindah, saat upacara hari senin, Tiba-tiba ia menjadi pembina upacara, kata-kata itu adalah pesan terakhir untuk kita, semua keluarga besar warga sekolah, siswa-siswi dan guru SMKN 1 Sampang, suara itu bergemuruh, merasa sangat kehilangan seseorang yang selalu bersama kita, nyanyian bersama tentang makna kata Terpujilah engkau wahai Ibu Bapak Guru, semua menyanyikan terasa khidmat, hingga teringat masa kenangan saat bersama dengan segala dukanya.
Acara itu dilanjutkan dengan mengundang dewan guru dan juga komite sekolah, perwakilan guru ungkapan semua kenangan selama bersamanya, mantan kepala Sekolah juga ikut mewakili menyampaikan kesan dan pesan, termasuk kepala sekolah dengan sambutan dan tangisan haru mengungkapkan kenangan saat bersamanya, ditutup dengan nyanyian oleh sahabat karibnya dengan lagu Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu, dan pemberian kado sebagai simbolik kenangan.
Semua telah berlalu, memudar akan rasa itu, yang ada adalah sebuah rasa bahwa jarak hanya bisa memisahkan kita secara fisik, namun rasa persahabatan, persaudaraan, kekerabatan akan terus selamanya, selamat bertugas bapak di SMKN 1 Ngawi, pengabdian disisa akhir hayat kita terhadap negara dan ibunda tercinta.
Studi Tiru ke SMKN 1 Ngawi| Family Gathering SMKN 1 Sampang

Kunjungi SMKN 1 Ngawi, keluarga besar guru SMKN 1 Sampang belajar banyak tentang manajemen sekolah yang ada di sekolah tersebut, dari hal yang paling dasar bagaimana menerapkan kurikulum merdeka dan pengelolaan sistem yang ditetapkan di sekolah.
SMKN 1 Ngawi mempunyai sekitar 1400 siswa yang terdiri dari 5 jurusan, kendati demikian gedung yang digunakan sangat terbatas untuk bisa digunakan siswa dan siswi di sekolah tersebut, dengan keadaan tersebut, sekolah ini mensiasati bagaimana siswa-siswi bisa untuk mengikuti pembelajaran dengan efektif dan efisien, yakni dengan memberangkatkan siswa-siswi PKL (Praktik Kerja Lapangan) ke DUDIKA agar sebagian jurusan lain bisa menempati kelas yang ditinggal siswa-siswi lainnya yang sedang melaksanakan PKL.
Yang sangat menarik di SMKN 1 Ngawi ini adalah tentang bagaimana penerapan Proyek Penguatan Pelajar Pancasila yang mengacu pada penguatan karakter peserta didik dengan membuat karya yang mempunyai nilai estetika tinggi dan mempunyai nilai jual, ini adalah salah satu yang harus ditiru oleh SMKN 1 Sampang, bahwa belajar tidak harus di kelas dan karya harus bisa di buat pameran ke publik sebagai bentuk citra diri sekolah.
Selain studi tiru di berbagai banyak jurusan yang sama agar bisa diambil dan diterapkan ilmunya di SMKN 1 Sampang, silaturahim terjalin kembali mempertemukan dengan bapak Sugeng, mantan guru SMKN 1 Sampang yang sudah berpindah tugas di SMKN 1 Ngawi, ini adalah salah satu bentuk kepedulian ikatan batin keluarga besar SMKN 1 Ngawi yang ingin terus terjalin hubungan kekerabatan meskipun secara fisik terasa jauh, namun secara batin kita adalah saudara.
MTD Trunojoyo konsisten melestarikan budaya | Momentum Ter-Ater Tajin Sappar

Komunitas Madoera Tempo Doeloe masih tetap konsisten untuk melestarikan budaya Ter-ater tajin Sappar, seperti yang dilakukan tiap tahunnya di bulan Sappar.
Bertepatan tanggal 22 September 2022 sebenarnya adalah even Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang sesuai dengan kalender yang terpajang dan terpublikasi ke publik, namun karena pemotongan anggaran atau recofusing, Disporabudpar sebagai penanggung jawab belum bisa merealisasikan apa yang sudah diagendakan di kalender even Pemerintah Kabupaten Sampang.
Meskipun seperti itu, MTD Trunojoyo sebagai komunitas adat dan budaya, tetap harus menjaga marwah ter-ater tajin Sappar ini meskipun dengan dana hasil urunan antar anggota.
Sebagaimana panitia yang sudah dibentuk oleh ketua MTD Trunojoyo di Pebabaran Trunojoyo, yakni Nyi Ageng Juwita, Nyi Ageng Aak dan Nyi Ageng Eny tetap semangat untuk terus bisa melaksanakan kegiatan tajin Sappar yang sudah dibebankan kepada mereka sebagai panitia.
Ter-ater Tajin Sappar pada hari kamis dimulai arebbe di Pebabaran Trunojoyo dipimpin oleh Ustad Suadi dan ustad Daiman beserta Ki Ageng Buchori membaca doa untuk kebarokahan acara tajin Sappar dan untuk keselamatan juga kesehatan para pemimpin di kabupaten Sampang agar bisa memimpin lebih baik lagi.
Setelah dari Pebabaran Trunojoyo para Nyi Ageng dan Ki Ageng berangkat ke Pendopo Trunojoyo Sampang, disana pak Tris dan rekan sudah siap menerima tajin sebagai simbolik, karena bapak Bupati Sampang masih berada di tanah suci Mekah untuk melaksanakan ibadah umroh.
Selanjutnya ter-ater dilanjutkan ke Bank Sampang, Disporabudpar, Polsekta Sampang, kantor Wabup Sampang, tidak lupa Teh Panjih dan Nyi Waladi, dan alhamdulillah meskipun membuat hanya sedikit tajin, cukup untuk bisa dibagikan secara merata dan simbolik, mungkin karena faktor banyak yang tidak datang ketika acara di Pebabaran Trunojoyo sebagai ritual slametan.
Disela sebelum pemberangkatan Ustad Suadi dan Abah Daiman berpesan dan mendoakan bahwasanya acara tajin Sappar ini jangan sampai hilang sebagai bentuk ritual dan doa untuk keselamatan kita semua utamanya Kabupaten Sampang, semoga kita ikhlas menjalani peran kita masing-masing sebagai bentuk pengabdian kita terhadap Tuhan yang Maha Esa dan Negara Republik Indonesia, tuturnya.
Mengetuk Hati, Kenang Para Leluhur | Penyematan Simbolik Tokoh Adat Sampang | 1 Muharram 1444 di Pebabaran

Penyematan yang dilakukan oleh Keraton Sumenep kepada KSAL Yudo Margono minggu lalu menyisakan tanda tanya kepada organisasi budaya seperti MTD Trunojoyo Sampang, ketua panitia acara penyematan KSAL Keraton Sumenep adalah berasal dari orang Sampang, namun kendati demikian ketua panitia bingung Sampang yang mau diundang siapa?, karena keberadaan tokoh atau pemangku adat di Sampang belum ada.
Dan pada akhirnya tokoh muda dari PC Lesbumi NU Sampang Bapak Haji Daiman (Ba Daiman panggilan akrabnya) tanpa disengaja ketemu dengan ketua panitia penyematan KSAL di masjid yang berada di Banyuanyar (Ju’lanteng) selepas sholat Jum’at, meskipun hanya berbincang dengan waktu yang cukup singkat, ketua panitia mengundang untuk bisa hadir ke acara penyematan KSAL Yudo Margono.
Singkat cerita dikumpulkanlah para pengurus MTD Trunojoyo untuk membahas pembentukan pemangku adat Sampang, diskusi kecil itu mengerucut kepada turunan Raden atau darah biru, dan diputuskan sosok ideal yakni mantan bupati Sampang Bapak Noer Tjahja, mantan bupati Sampang ini sebenarnya sudah ideal dan tentunya pengalaman dan koneksi tidak perlu diragukan lagi.
Tentunya ini butuh waktu yang panjang dalam pembentukan pemangku adat di Kabupaten Sampang, karena banyak faktor yang harus disiapkan, selain secara administratif, tentunya harus disepakati bersama oleh tokoh dan organisasi lainnya di kabupaten Sampang, ini tentunya harus dipikirkan bersama dan terus digalakkan oleh semua pihak agar segera terbentuk pemangku adat di Sampang, karena ini menyangkut dan menguatkan pelestarian budaya asli Sampang, tentunya akan menambah nilai Kabupaten Sampang Hebat Bermartabat di mata dunia.
KH. ZAMAWI IMRON KUNJUNGI PEBABARAN TRUNOJOYO | PEMBUDAYA SAMBUT SANG MAESTRO

Sabtu, 28 Mei 2022 Pebabaran Trunojoyo kedatangan tokoh nasional, budayawan, seniman, ulama, ataupun tokoh intelektual, terlalu banyak gelar yang harus disematkan kepada sang maslestro sehingga mungkin ada yang terlewatkan.
Kedatangan sang maestro ini sangat mengejutkan bagi pelaku budaya Sampang, terkesan mendesak koordinasi dan persiapan untuk menyambutnya, sehingga sajian pun dilakukan sangat sederhana, utamanya Aba Daiman selaku ketua Lesbumi NU Sampang, karena harus bergerak cepat untuk menghubungi pembudaya lainnya.
Dan pada akhirnya koordinasi dengan pengurus MTD Trunojoyo menjadi satu-satunya yang dilakukan, selain waktu yang tidak terlalu banyak, KH. Zamawi Imron hanya singgah untuk sedikit urun rembuk tentang acara yang akan dilakukan MWC Lesbumi Kecamatan Tambelangan Kabupaten Sampang terkait pagelaran budaya.
Ketua MWC Lesbumi Kecamatan Tambelangan Kabupaten Sampang Mohammad Wiam menuturkan bahwa pertemuan ini terjadi begitu saja, jam 2 pagi saya dihubungi asistennya jika KH. Zamawi Imron akan mampir ke Sampang, Ra Wiam (panggilan akrabnya) mengiyakan karena terkait acara nanti yang akan mengundang beliau dalam rangka parade budaya Muharram.
Sehingga akhirnya kita koordinasi dengan PC Lesbumi NU Sampang untuk bersama menyambut sang maestro, dan kebetulan ketua Lesbumi NU Sampang juga salah satu pimpinan di MTD Trunojoyo yang ikut melestarikan situs Pebabaran Trunojoyo, ujar Ra Wiam
Meskipun tampak tergesa-gesa dan tidak banyak waktu, pertemuan dan rembukan itu berjalan dengan baik sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, tampak sajian yang dihidangkan pun juga sangat sederhana dengan jajanan pasar.
Rokat Raja Mertosari “Ungkapan Rasa Syukur di hujan pertama” Masyarakat Takobuh Sampang
Rokat adalah salah satu bentuk syukur masyarakat kepada Allah SWT, sebagai perantara melalui para tokoh yang sudah meninggal dan dianggap keramat, seperti yang dilakukan oleh masyarakat kampung Takobuh jl. Rajawali kecamatan Sampang Kabupaten Sampang.
Rokat raja Mertosari ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur, biasanya dilakukan setelah turun hujan pertama, masyarakat berbondong-bondong membawa makanan (sesaji) untuk didoakan oleh tokoh ulama yakni Kiai Hasyim, sebagian ditaruh ditempat sebagian lagi dibawa pulang untuk dinikmati oleh keluarga masing-masing.
Seperti yang kita tahu Raja Mertosari adalah salah satu raja yang terkena imbasnya oleh Sultan Agung raja Mataram pertama ketika ekspansi kekuasaan ke wilayah Madura, tragedi ini dikenal dengan tragedi berdarah karena makam sang Raja Mertosari yang disatukan dengan keluarganya di dalam satu tempat.
Tidak banyak yang tahu tentang siapa Raja Mertosari, baru 2 tahun ini menurut ketua RT di kampung Takobuh H. Rifai sudah ada yang memperhatikan ketika hari jadi Kabupaten Sampang, ke depannya kita ingin ada congkop di makam raja Mertosari, ini butuh perhatian dari Pemerintah setempat, utamanya Disoporabudpar yang menangani tempat bersejarah dan cagar budaya, imbuh ketua RT dan juru kunci Makam Raja Mertosari.
MTD TRUNOJOYO | TALK SHOW DI SUARA SAMPANG

Kedatangan MTD TRUNOJOYO di Suara Sampang adalah salah satu bukti kegiatan yang selama ini diadakan tentang budaya, mengangkat budaya ataupun pelestarian budaya yang selama ini hampir punah bahkan sudah tidak ada lagi, mengundang banyak tanya publik dan penasaran siapa dan apa itu MTD?.
MTD (Madoera Tempo Doeloe) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh Bapak Hasbullah (anggota kepolisian di Polda Jatim) bersama para pendiri yang peduli kepada pelestarian budaya dan perkembangan Madura, tujuan yang sangat mulia membuat wadah MTD ini, karena setiap orang bisa mempunyai kesempatan yang sama menyalurkan aspirasi tentang perkembangan dan pelestarian budaya Madura.
Awal berdirinya MTD ini harusnya ada 4 Kabupaten di Madura, namun Kabupaten Sumenep tidak pernah terbentuk keanggotaan secara struktural, dan tiap Kabupaten ini MTD mempunyai nama yang berbeda seperti MTD Pamekasan Hebat, MTD Trunojoyo, MTD Lemah Duwur. Selain di Madura juga ada MTD di luar Madura yakni MTD Sawunggaling dan MTD Beautiful.
Dalam Talkshow tersebut ternyata banyak yang tertarik tentang kegiatan budaya yang dilakukan oleh MTD Trunojoyo, dari pemakaian bahasa Madura yang dalam hal ini adalah bahasa Ibu, baju adat yang banyak tidak setuju dengan pakaian saat ini yakni Sakera dan Marlena, karena identik dengan Blatiran.
Tentunya sebagai wadah organisasi yang bergerak di bidang pelestarian budaya, anggota yang laki-laki disebut disebut dengan julukan Ki Ageng dan yang perempuan disebut julukan Nyi Ageng sebagai identitas pengurus dan anggota di MTD Trunojoyo.
Nama ini cukup viral di kalangan masyarakat, karena semua yang diangkat adalah ala tempo dulu, simbol kearifan lokal para leluhur kita.
Ke depannya nanti pengurus MTD TRUNOJOYO akan merealisasikan aspirasi dari masyarakat tentang Bahasa, baju adat, permainan anak tempo dulu dan pelestarian budaya yang cukup banyak mengandung nilai filosofis hingga generasi milineal tidak lupa dengan warisan nenek moyang dan kearifan leluhur kita.
KARATE KID | INKAI SAMPANG

Uji kenaikan Sabuk Karate yang harusnya di GOR Kabupaten Sampang tidak berjalan mulus, dikarenakan masih ada PPKM yang terus menerus diperpanjang, ijin tempat belum jelas jawabannya sehingga sang pelatih karate harus mengalihkan tempat di belakang Penjara untuk segera diuji peserta pelatih oleh tim yang di kirim oleh provinsi Jawa Timur.
Meskipun sempat tertunda tidak menyurutkan peserta untuk latihan dengan antusias diluar GOR meskipun tidak berseragam, terbukti dengan latihan keras mereka bisa naik sabuk semua ke jenjang yang lebih tinggi.
Banyak yang tidak tahu tentang keberadaan Karate di Sampang ini, mereka adalah calon pendekar, generasi penerus bangsa yang banyak lebih memberikan manfaat untuk anak jaman sekarang yang notabene lebih banyak duduk diam hanya bermain gadget atau dawai, dengan belajar gerakan seni bela diri, mereka akan banyak bergerak dan tentunya lebih sehat, peserta Karate ini banyak di dominasi oleh anak berusia masih 6 sampai 15 tahun.
Untuk menunjang hal kegiatan yang bersifat positif untuk anak kita adalah salah satunya mengikuti kegiatan olahraga bela diri ini, yakni Karate, karena terbukti dan teruji secara mental dan fisik sehat, untuk itu jika anda berminat bisa menghubungi langsung Bapak Herman Setiawan di sekretariat Selong Permai belakang Masjid.