Salah satu rumah bersejarah yang sebelumnya kurang terawat, saat ini perlahan mulai difungsikan kembali, melalui MTD Trunojoyo kini Pebabaran Trunojoyo menjadi banyak tanaman rindang dan indah, ini tidak lepas dari Ibu Siana yang menanam dan merawat tanaman di Pebabaran, selain itu juga ada Arif, Diah, Hj. Kiptiyah dan anggota MTD lainnya yang sudah memberikan sumbangan tanaman dan tanaman obat (Toga) untuk ditanam di Pebabaran Trunojoyo.
Keberadaan sumur di Pebabaran juga menjadi ajaib, menurut informasi warga sekitar Pebabaran sumur yang sebelumnya sudah tidak ada airnya, namun setelah didoakan acara ritual chok Bhumi air itu tiba-tiba ada sumber air memancarkan sumbernya, air yang semula mampet saat ini bisa ada lagi dan bisa digunakan untuk menyiram tanaman yang ada di Pebabaran Trunojoyo.
Kini sumur itu harus kembali dikuras untuk dibersihkan, inisiasi para ketua MTD Trunojoyo direspon positif oleh Nyai Welad untuk membiayai penuh, dari mulai konsumsi pekerja dan sewa alat penguras, semua ini tidak lepas dari ketulusannya untuk leluhurnya dan sang Pahlawan Madura Trunojoyo.
Dibantu oleh Pak Slamet sebagai juru kunci dan Lora Syaifur pekerjaan menguras sumur alhamdulillah berjalan lancar, dan ditemukan adanya 2 sumber yang tertutup oleh bebatuan.
Menurut orang-orang terdahulu air sumur di Pebabaran mempunyai khasiat untuk menetralisir energi negatif dan menyembuhkan segala macam penyakit, untuk itu melalui MTD Trunojoyo nantinya akan dikelola airnya untuk bisa memberikan manfaat kepada masyarakat banyak tentunya, untuk saat ini masih proses penjernihan air agar bisa siap minum nantinya.
Trunojoyo sosok yang sangat fenomenal sampai saat ini, gelar kepahlawanannya sangat ditunggu oleh seluruh rakyat Indonesia, namun sampai saat ini belum juga Indonesia menetapkan gelar kepahlawanannya kepada sosok Pangeran Trunojoyo.
Masyarakat Indonesia pada umumnya sudah mengenal nama Trunojoyo, dari nama bandara, nama kuliner ataupun nama jalan yang hampir ada diseluruh Indonesia menunjukkan bukti otentik bahwa Trunojoyo sudah banyak dikenal dan tidak asing lagi nama Trunojoyo.
Raden Nila Prawata adalah nama aslinya, Pangeran Trunojoyo adalah julukannya yang artinya Pemuda yang Jaya dan bergelar Panembahan Maduratna, Trunojoyo asal dari Sampang Madura (tempatnya di Pebabaran Trunojoyo) cucu dari Raden Praseno atau Cakraningrat I.
Munculnya Pemberontakan Trunojoyo murni adalah perjuangan, atas nama penindasan dan pemerasan terhadap rakyat jelata, ditambah Amangkurat sebagai raja Mataram bekerjasama dengan VOC, padahal ayahnya Sultan Agung selama memerintah Mataram sangat menentang VOC, sangat bertolak belakang dengan anaknya yang berkompromi dengan VOC.
Sejak Amangkurat memerintah rakyat banyak tertindas, banyak rakyat tidak suka dengan Amangkurat, banyak ulama dan abdi dalem Kerajaan dibunuh, ini tidak lepas dari provokasi VOC, semua dicurigai sehingga timbul mosi tidak percaya terhadap orang dekat raja, termasuk anaknya Adipati Anom.
Dan pada akhirnya muncullah sang Pahlawan yang peduli dan tidak rela rakyat menjadi korban terus-menerus dijajah, dengan didukung oleh Ulama Pangeran Kajoran (Mertua Trunojoyo) dan tokoh pejuang Kraeng Galesong dan Kraeng Bonto yang berasal dari Bugis, Trunojoyo mulai melakukan pemberontakan dimulai dari Madura sampai ke Plered (Kerajaan Mataram) satu persatu dikuasainya, dengan semangat membela keadilan dan memberantas penindasan yang selama ini dilakukan oleh Amangkurat.
Trunojoyo yang selama ini ditulis oleh sarjana Belanda bahwa pemberontakan Trunojoyo dilakukan untuk merebut kekuasaan dan nafsu pribadi untuk menjadi raja, nyatanya tidak bisa dibuktikan, pemberontakan Trunojoyo murni menegakkan keadilan untuk kesejahteraan rakyat banyak.
Yang menjadi misteri sampai saat ini adalah kematian Trunojoyo dan tempat pemakamannya, berawal bujuk rayu paman Trunojoyo Cakraningrat II yang menemui Trunojoyo dalam pelarian di Ngantang, dan akhirnya Trunojoyo terpengaruh bujuk rayu sang paman untuk menyerahkan diri kepada Amangkurat II.
Pangeran Trunojoyo akhirnya diikat dengan kain sutra dan dibawalah ke Mataram, kerisnya diserahkan kepada pamannya, salah satu versi mengatakan Trunojoyo ditikam oleh pamannya dari belakang dengan keris Trunojoyo sendiri, di satu versi Trunojoyo ditembak mati oleh pasukan VOC di Ngantang, namun dari beberapa versi Trunojoyo ditikam oleh Amangkurat II dengan keris Trunojoyo di Mataram.
Dari beberapa versi mungkin yang banyak dipercaya oleh masyarakat yakni dibunuh oleh Adipati Anom atau Amangkurat II, karena salah satu alasan yang paling kuat adalah dendam kesumat, lebih kepada faktor keluarga, ayahnya Adipati Anom meninggal karena pemberontakan Trunojoyo dan adiknya Adipati Anom yang dinikahi oleh Trunojoyo.
Semangat dan perjuangan Trunojoyo sampai hari ini masih bergetar dan nyaring bunyinya di seluruh penjuru untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, meskipun sampai hari ini makam Pangeran Trunojoyo dipolitisir oleh keluarga Amangkurat dan VOC, ada yang bilang di Imogiri, Moksa dan ada juga badan dan kepala di makamkan terpisah, namun tempatnya sampai hari ini simpang siur.
Hanya Pebabaran Trunojoyo yang ada di Sampang menjadi satu-satunya tempat bersejarah, tempat ari-ari Trunojoyo, bangunan itu masih ada dan sekarang sudah dikelola oleh MTD Trunojoyo, semangat Trunojoyo akan tetap bergaung melalui orang-orang yang tulus, perjuangan Trunojoyo belum tuntas melalui generasi kita hari ini untuk berjuang memberantas keadilan demi kemaslahatan umat dan keutuhan berbangsa sebagai identitas diri bangsa Indonesia, Ingatlah Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Bertepatan dengan hari sumpah pemuda hari rabu 28 Oktober 2020 jam 19.00 WIB (Baghda Isya’) Masjid Al-Ijtihad merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, suasana nampak meriah, warga Ju’lantemg berbondong-bondong datang untuk memeriahkan untuk bersama-sama bersholawat kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Dalam sesi acara Maulid Nabi Muhammad SAW warga Ju’lanteng ternyata dikejutkan oleh kedatangan penceramah dari Kabupaten Pamekasan yang mempunyai nasab dari Kabupaten Sampang, ini sangat menarik menurut salah satu warga Haji Daiman, karena ceramah agama juga berbicara tentang budaya.
Beliau adalah KH. RP. Thariq bin Syahrani bin RP. Achmad Sadiq bin RP. Abdul Gafur, sang tokoh ulama tersebut ternyata keturunan warga kelurahan Banyuanyar, tepatnya beliau pernah tinggal di jalan Mutiara Sampang, masih ada hubungan darah dengan R.P Ismail, karena sebelum memulai ceramah beliau memohon ijin dan meminta maaf terhadap pamannya yakni R.P Ismail.
Warga Ju’lanteng sangat antusias mendengar ceramah KH. R.P Toriq karena selain banyak memberikan pemahaman dan pencerahan tentang agama dan budaya, cara menyampaikan pun mudah dipahami dengan bahasa yang sangat sederhana.
Yang sangat dikagetkan sebenarnya beliau merupakan salah satu anggota grup Madoera Tempo Doeloe, dengan otomatis karena beliau adalah warga Pamekasan, tentunya merupakan bagian MTD Pamekasan Hebat, namun tidak menutup kemungkinan bisa saja suatu saat bisa bergabung dengan MTD Trunojoyo.
Ini pentingnya belajar sejarah dan budaya, beliau sebagai salah satu tokoh ulama dan budayawan tidak pernah melupakan riwayat para leluhurnya, hingga tulisan ini dimuat, inilah sosok tokoh ulama dan budayawan yang sebenarnya dicari oleh MTD, mungkin di acara MTD berikutnya bisa kita datangkan, ucap Haji Daiman.
Berbicara sejarah dan budaya, kita tidak bisa lepas dengan nama-nama para leluhur kita, perjuangan leluhur kita yang sampai saat ini masih bisa dirasakan oleh masyarakat pada umumnya, meskipun dalam sebuah perjalanannya kadang ada kontradiksi yang selalu menyertai, namun itu merupakan bagian kehidupan yang harus dilalui.
Sampang merupakan salah satu Kabupaten di Madura bagian dari Provinsi Jawa Timur yang banyak mempunyai abdi negara (ASN) dari luar daerah, konon orang Sampang memang dari sejak dahulu kala suka berdagang daripada menempuh pendidikan, oleh karena itu tingkat SDM orang Sampang kurang kompetitif untuk menjadi abdi negara, ditambah lagi memang gaji abdi negara jaman dulu terbilang kecil.
Banyaknya orang luar Sampang yang menjadi pejabat di Sampang sangat berdampak luar biasa dalam kehidupan masyarakat Sampang dari berbagai sektor, sepertinya Sampang ketinggalan jauh dari kota-kota yang lain, dari Sektor Pendidikan, Kesehatan, Perekonomian, Politik dan budaya, seolah tidak bersaing dari kota yang lain, sektor pendidikan dulu sempat masuk terendah ke-2 setelah Papua.
Saat ini Kabupaten Sampang dipimpin oleh Bupati asli putra daerah, asli desa Kaseneh Kelurahan Karang Dalam Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang, berangkat dari seorang pengusaha sampai menjadi DPR RI, dan sekarang ini telah menjabat Bupati Sampang yang langsung dipilh langsung oleh rakyat.
Bupati Sampang dalam banyak forum sering mengungkapkan “Saya Ingin Membangun Sampang lebih baik, Hebat Bermartabat” Saya tidak ingin mencari uang untuk memperkaya diri saya pribadi, Saya ingin Sampang maju berkembang pesat di semua sektor, tapi tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan butuh proses yang harus dilalui secara bertahap, Ujar H. Slamet Junaidi (Bupati Sampang)
Ucapan Bupati Sampang tidak hanya isapan jempol belaka, semua terkonsep dan mulai terkoneksi satu sama lain, melalui Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) yang banyak beranggotakan Doctor dan Profesor semua seolah tidak bisa berkutik memainkan anggaran seenak jidadnya, semua OPD harus benar-benar berpikir lebih keras lagi untuk efisiensi anggaran tepat sasaran.
Mayoritas masyarakat Sampang saat ini sudah mulai merasakan dampak pembangunan insfrastruktur dan birokrat pelayanan, dari mulai membuat KTP yang mudah dan cepat, Perijinan, taman kota yang indah, dan lampu kota yang gemerlap di malam hari.
Semua sudah mulai tertata dan terkoneksi dengan baik, salah satu warisan peninggalan sejarah adalah Rumah Sejarah di Pebabaran Trunojoyo yang kini sudah mulai dilirik oleh kalangan banyak orang dan sudah mulai masuk perencanaan revitalisasi untuk tahun depan secara bertahap dimulai dari pagar, gerbang dan fasilitas umum.
Dalam hal ini MTD Trunojoyo sebagai Mitra Pemerintah juga ikut urun rembuk untuk perkembangan nanti rute paket wisata religi dan kuliner di kota Sampang, karena sebagai pemerhati sejarah dan budaya di Sampang, MTD seringkali menggali dan melestarikan budaya yang hampir hilang dari peradaban.
Sudah saatnya Kabupaten Sampang yang mempunyai Pemimpin Putra Daerah dan juga peduli terhadap Sampang ini harus segera direalisasikan program pro rakyat sehingga menjadi Sampang Hebat Bermartabat, semua elemen harus dirangkul untuk bersama-sama bahu membahu untuk kepentingan masyarakat banyak, jangan biarkan keinginan luhur Bupati Sampang dan rakyat yang peduli Sampang yang lebih baik dinodai dan dikotori oleh kepentingan sesaat, sudah saatnya Kabupaten Sampang unggul di segala bidang untuk kemaslahatan masyarakat Sampang.
Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri, tidak ada yang salah dan terus salah selamanya dan tidak ada yang benar dan terus benar selamanya, dalam sebuah perjalanan kehidupan manusia pasti akan menemukan keduanya dan saling melengkapi, karena kisah kehidupan ini merupakan dualitas alam semesta.
Ada panas ada dingin, ada siang ada malam, ada perempuan dan laki-laki, dan banyak hal lain yang bisa diurai secara logika untuk melengkapi satu sama lain, menjadi manusia adalah sebuah proses jalan hidup menuju kebenaran hakiki, selama menjadi manusia kebenarannya sangat relatif, untuk menuju kesana harus melewati rintangan dan kendala yang akan membentuk karakter manusia, karena baik dan buruk itu sangat relatif.
Saat ini bisa saja apa yang dianggap kita sebagai manusia adalah hal yang benar, namun dikemudian hari bisa saja dianggap salah, kebenaran akan berproses untuk suatu yang lebih baik, karena kualitas keinginan dan kepentingan manusia terletak pada hal yang bermanfaat bagi semua manusia, kemaslahatan umat beragama, dan pada akhirnya menyatu dengan sang Pencipta, itu yang disebut dengan keinginan luhur.
Namun sangat disayangkan masih banyak manusia dalam proses perjalannya kehidupan berprinsip untuk mencari hal yang berlebihan dan tidak akan pernah ada cukupnya untuk selalu mencari untuk kepentingan pribadinya, hingga keinginan yang lebih luhur terabaikan.
Manusia banyak menimbun atas dasar eksistensi diri, keserakahan demi harta tahta wanita, semua hal itu adalah sebuah tipu daya dunia yang membuat manusia larut didalamnya, lupa akan tujuan utamanya menjadi manusia seutuhnya.
Pada dasarnya tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan, kebahagiaan berbeda dengan kesenangan, kesenangan adalah keterikatan kita terhadap hal diluar diri kita, kebahagiaan adalah hal yang tumbuh didalam diri kita, dengan cara membantu orang lain atau memberikan bantuan apa yang dibutuhkan, karena tangan diatas lebih mulia daripada tangan dibawah.
Kebahagiaan adalah hal yang stabil karena tumbuh didalam diri setiap manusia, benturan diluar diri tidak bisa mengubah rasa kebahagiaan itu, jika benturan itu bisa mengubah rasa kebahagiaan itu, berarti memang kita belum sampai pada rasa kebahagiaan yang hakiki.
Setiap benturan yang terjadi terhadap pada diri manusia adalah merupakan bagian proses perjalanan manusia untuk lebih baik secara mental dan pembentukan karakter setiap manusia, untuk itu setiap apa yang dirasakan emosi dalam jiwa harus mampu dikendalikan dengan baik oleh setiap manusia, karena itu merupakan sebuah proses pematangan jiwa.
Akibatnya setiap rasa yang tidak bisa dikendalikan akan menimbulkan penyakit hati bagi manusia, iri, dengki, dendam dan lain sebagainya, semua itu adalah energi negatif yang perlahan harus dihilangkan didalam diri manusia, karena bisa berakibat fatal terhadap kesehatannya sendiri dan orang lain.
Kebenaran manusia tidak mutlak, semua harus berproses dan terus berproses untuk mengenal jati diri manusia itu sendiri, kualitas manusia ditentukan oleh keinginan luhurnya untuk kemaslahatan umat manusia, jangan nodai keinginan itu untuk suatu kepentingan yang bersifat sesaat, karena Kebenaran yang mutlak dan hakiki adalah milik Sang Pencipta Alam Semesta.
Terimakasih Kepada semua pihak atas sukseskan acara Cocoghan Maulid Nabi Muhammad SAW 17 Oktober 2020 di Pebabaran Trunojoyo, utamanya kepada Ki Ageng Bagus Sulthon Nyi Ageng Sisi Nyi Ageng Juwita Nyi Ageng Kinan Nyi Ageng Yuli Dan semua pemeran dibalik layar guna menyukseskan acara Cocoghan ini, tidak lupa kepada donatur yang banyak menambah amunisi baru untuk bisa memeriahkan acara ini, semua ini tidak lepas karena bentuk pengabdian kita terhadap para leluhur yang telah ada dan berjuang untuk kita bisa seperti saat sekarang ini.
Akhir kata apa yang sudah kita kerjakan dan kita lakukan dengan niat tulus akan kembali kepada kita juga, dan ketika niat itu modus juga akan dikembalikan kepada kita.
Mudah-mudahan ini semua menjadi amal ladang perbuatan kita nanti, terimakasih.
Acara cocoghan Maulud Nabi Muhammad SAW di Pebabaran Trunojoyo di jalan Pahlawan Gg. VIII Sampang yang diadakan oleh MTD Trunojoyo adalah pertama kali dengan salah satu tujuan memberikan kabar kepada seluruh masyarakat Sampang bahwa sudah memasuki bulan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Kedatangan Bapak Bupati Sampang ke Pebabaran Trunojoyo mengagetkan semua pihak, karena Bapak Bupati Sampang Haji Slamet Junaidi memprioritaskan datang ke acara Cocoghan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diadakan oleh MTD Trunojoyo daripada acara yang lainnya.
Warga sekitar yang melihat turut bangga dengan kedatangan Bapak Bupati ke Pebabaran Trunojoyo, karena dengan datangnya Bupati Sampang Pebabaran Trunojoyo nantinya rumah bersejarah ini bisa dirawat dan dilestarikan kembali sebagai salah satu tempat warisan bangsa Indonesia.
Rumah bersejarah ini merupakan tempat Pangeran Trunojoyo dilahirkan dan ditempatkan ari-ari nya, ini adalah bukti otentik dan tidak ada di daerah manapun mengklaim tempat kelahiran dan keberadaan ari-ari Pangeran Trunojoyo.
Bapak Bupati Sampang Haji Slamet Junaidi memilih duduk bersama dibawah bersama tamu undangan yang lain, dengan didampingi oleh ketua MTD Trunojoyo Sampang Raden Achmad Fauzan, Bupati Sampang sempat melihat arah kanan kiri depan belakang karena mungkin merasa prihatin dengan keadaan rumah bersejarah ini.
Dengan menginjakkan kaki di tanah kelahiran Pangeran Trunojoyo, kini Bapak Bupati otomatis bergelar Ki Ageng, Raja Sampang pertama yang bergelar Ki Ageng adalah Haji Slamet Junaidi.
Cocoghan adalah budaya Orang Madura dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, tahun kelahiran dan meninggalnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW sama, itu tutur yang disampaikan oleh Haji Daiman tokoh budaya muda kepada teman-teman MTD lainnya. Cocoghan merupakan pertama kali diadakan di Pebabaran Trunojoyo Sampang, setelah sekian lama situs ini terabaikan.
Tanggal 17 Oktober 2020 jam 19.00 WIB merupakan malam tanggal 1 bulan Maulud Nabi Muhammad SAW, MTD Trunojoyo mengawali mengadakan kegiatan Cocoghan di Pebabaran Trunojoyo Jalan Pahlawan Gang VIII Sampang, makna ini adalah mengabarkan dan mengawali kepada seluruh masyarakat Sampang dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kegiatan ini diawali Khotmil Qur’an tasawul kepada para leluhur untuk keselamatan dan kesejahteraan masyarakat sekitar dan Negeri Indonesia ini agar aman tentram dan sejahtera.
Selain itu Cocoghan ini akan kedatangan ada pemimpin nomor satu Sampang yakni Slamet Junaidi yang akan hadir untuk menghormati dan memberikan semangat kepada MTD Trunojoyo karena selama ini jika Bupati di undang ke Pebabaran selalu berhalangan.
Dan mungkin ini adalah saatnya beliau sebagai pelindung di MTD Trunojoyo memberikan perhatian lebih agar para pengurus dan anggota MTD lebih bisa memberdayakan kemampuan untuk tidak tidak melupakan sejarah dan melestarikan budaya khususnya Sampang.
Sudah menjadi kebiasaan tokoh budayawan muda yang dikenal dengan pengusaha sukses di Sampang Haji Daiman mengunjungi tempat wisata religi, salah satu agenda tersebut adalah selain merupakan trah Bujuk Napo Haji Daiman ingin mengenalkan dan mempublikasikan Bujuk Napo menjadi salah satu objek wisata religi kepada masyarakat umum.
Dalam perjalanan menuju ke Bujuk Napo, banyak ditemukan jalan yang masih diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Sampang, informasi yang didapatkan dari masyarakat setempat, Bujuk Napo akan dijadikan salah satu objek wisata religi oleh Pemkab Sampang, tahun ini sudah mulai direalisasikan untuk perbaikan jalan dan drainase sebelum tempat religi dan rumah pusaka Bujuk Napo direnovasi lebih baik lagi.
Sesaat sampai di tempat Bujuk Napo, banyak mobil parkir di kediaman Bapak Kepala Desa, ternyata sudah ada tim OPD dan TP2D Sampang yang sudah berada di kediaman Kepala Desa Napo Laok, dan pada akhirnya pertemuan yang tidak disengaja itu membawa tim MTD harus bergabung dalam tim dari Pemkab Sampang, duduk bersama untuk membahas Bujuk Napo dari segi budaya, Pariwisata dan banyak lainnya.
Pertemuan yang tidak disengaja ini membawa banyak referensi tentang Sampang ke depan sehingga bisa menjadi Sampang Hebat Bermartabat, banyak Pekerjaan rumah OPD yang harus digali dan ditelusuri, terkait pelestarian budaya dan pengembangan objek wisata, ini harus segera direalisasikan untuk Sampang yang lebih baik.
Haji Daiman mengusulkan semua unsur mengenai lingkungan sekitar harus dibenahi dan diperbaiki, utamanya sumber air yang saat ini kotor dan kecil, karena air merupakan sumber kebutuhan manusia yang paling dasar, jika ini tidak ter-cover pengaruhnya sangat besar terhadap pertanian dan hidup bersih masyarakat, untuk itu harus segera ditindaklanjuti.
Kedatangan tim MTD ini membawa warna baru, karena diluar Pemerintah dan juga pemerhati budaya, sehingga setiap usulan kepada tim Pemkab Sampang bisa segera direalisasikan untuk kepentingan masyarakat banyak dan pengunjung wisata nantinya.
Terkait anggaran dan lainnya Pemkab Sampang sudah mengkalkulasi dan mengumpulkan setiap OPD bersama untuk bisa merealisasikan anggaran tepat sasaran, posisi MTD sebagai Mitra Pemerintah hanya menjadi rujukan tentang bagaimana melestarikan budaya yang kini hampir punah utamanya di Kabupaten Sampang ini, tentunya tidak lepas dari kerjasama semua pihak untuk bisa mewujudkan Sampang Hebat Bermartabat.
Bila… Bila… Dari A langsung ke Z Tak usah kaget, Karena terkadang… Kau cuma dianggap Angket bukan target !!!
Heeeeeeemh… Lalu pikiran mana yang harus ku percaya…???
Suara mana yang harus ku dengar…???
Bibir mana yang harus ku perhatikan…???
Akal mana yang harus ku raba…???
Bila di depanku berbeda, Di belakangku pun berbeda…?!?!? Penuh tipu daya…!!! Penuh intrik berbahaya…!!!
Iming iming mempesona, Mencoba menjeratku, Ibarat jaring laba-laba, Tak pantaskah meggelitik rasa curiga di dada…!?!??
Sementara semua menganga begitu terbuka…!?? Bahkan didepan kedua mata…!?? Tak pelak membuat hati terluka…!!! Menghunjam telak di dada…!!! Membawa berjuta duka…!? Menguras air mata…!?!
Jangan biarkan mereka Suatu hari juga merasa. Jangan jangan jangan.
Aku berteriak sampai berbisik pelan… Sangat pelan… Agar terdengar terasa sopan.
Ini lah sebuah pinta dan do’a. Pada Sang Maha Kuasa, Sang Pencipta semua rasa, Dalam diri manusia.