PÉR-EPPÈRAN budaya lokal Rakyat Pesisir yang sudah punah

Banyak budaya yang terdahulu di jaman sekarang ini sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat modern pada umumnya, karena kecanggihan teknologi dan mudahnya komunikasi juga transportasi banyak menghilangkan jejak-jejak budaya para leluhur yang sudah mendahului kita.

Melalui MTD Trunojoyo banyak budaya mulai diungkap dan dilakukan kembali, salah satu bentuk kepedulian dan pelestarian budaya.

Melalui diskusi ringan yang dilakukan oleh tim kecil, Budaya itu sekarang mahal, karena sudah tidak lagi dilakukan oleh banyak orang, para pembudaya sekarang sangat minim sekali, sehingga banyak orang-orang yang ingin menjadi pembudaya instan yang notabene hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Untuk itu dalam rangka silaturahim antar anggota dan masyarakat Sampang pada umumnya, juga memperat tali silaturahmi, MTD Trunojoyo merayakan hari raya Idul Fitri 1442 H tepat di momentum Telasen Ketopak atau Hari Raya 7 hari, istilah ini dikenal masyarakat Pher-pheran atau Plesiran.

Budaya ini sangat bermakna bagi masyarakat pesisir untuk mengekspresikan kebahagiaan melepaskan penat dengan naik andong atau dokar, setelah sekian lama beraktivitas melakukan ibadah puasa 1 bulan lamanya.

Saat itu masyarakat banyak yang dipinggir jalan berpakaian rapi, menampilkan pakaian yang terbaru dan terbaik melihat dokar ataupun juga menjadi penumpang melihat satu sama lain, dan biasanya ke Brotok atau sumber otok setelah itu kembali.

Malam Pettolekoran, Budaya tahunan di Ju’lanteng

Tahlil dan Doa Malam Ke-27
Bulan Ramadhan

Acara rutin yang diadakan di kediaman Diya Food malam ke 27 di bulan suci Ramadhan ini adalah kegiatan tiap tahun yang diadakan di kediaman Diya Food Jalan Mutiara 105 Sampang.

Malam 27 ini mengundang hanya tetangga sekitar untuk Buka bersama sekaligus membagikan parcel buat persiapan Hari Raya Idul Fitri.

Tidak banyak yang undangan, karena hanya sekitar dan kerabat, perkiraan 50 orang undangan, namun acara cukup meriah karena diawali oleh doa dan tahlil dikhususkan para leluhur aulia dan tentunya untuk kebaikan seluruh kabupaten Sampang.

Pentingnya membangun kerukunan antar kerabat dan tetangga untuk keharmonisan dalam hidup bersosial, sehingga acara seperti ini harus rutin diadakan, tentunya harus dimulai dari kita sendiri, ujar H. Daiman pemilik Diya Food.

Selain itu kita (Diya Food) masih bisa memberikan paket untuk zakat fitrah dan zakat mall sebanyak 600 paket, meskipun masa pandemi patut disyukuri rejeki yang telah dilimpahkan kepada perusahaan ini bisa bertahan, dan semoga ini bisa menjadi ladang amal bagi keluarga besar Diya Food, amin, imbuhnya.

Harlah MTD yang Ke-2, MTD Berbagi “Takjil Berbudaya”

Ki Ageng & Nyi Ageng MTD Trunojoyo

Dalam rangka Merayakan Hari lahir Madoera Tempo Doeloe yang ke-2, MTD Trunojoyo merayakan dengan aksi berbagi takjil di depan perempatan SMA Negeri 1 Sampang, dengan dibantu urunan dana dari pengurus dan juga sumbangan dari anggota agenda ini bisa untuk direalisasikan.

Suksesnya kegiatan ini tidak lepas dari kekompakan antar anggota yang ingin berbagi dengan sesama, berbagi rejeki mumpung masih dalam suasana ramadhan, karena suasana ini adalah ladang pahala untuk berlomba-lomba dalam beramal kebaikan, ujar salah satu anggota MTD.

Nyi ageng dan ki ageng berkolaborasi membagikan takjil kepada para pengguna jalan, utamanya yang musafir maupun pengguna kendaraan lokal yang lalu lalang mengisi waktu luang menunggu berbuka puasa.

500 takjil dibagikan di sore hari menjelang adzan maghrib agar pengguna jalan bisa berbuka puasa di jalan yang masih perjalanan jauh, semua kompak memakai pakaian marlena bagi nyi ageng dan ki ageng sebagian memakai udheng.

Suasana tampak ramai, sore nan indah orang untuk saling berbagi, meskipun dana takjil masih urunan dengan anggota yang lain, namun kebahagiaan di hati tidak bisa diungkapkan dengan kata, semua mengalir begitu saja untuk saling berbagi.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung untuk bisa suksesnya acara berbagi takjil berbudaya, H. Diaman, Ra Fauzan, Yuli, bunda Ana, Ust. Subairi, dan semua pihak yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu, semoga amal ibadah kita diterima dan digantikan lebih banyak oleh Allah SWT.

MTD media ajang silaturahmi untuk Madura yang lebih baik

Awal dibentuk MTD oleh Bapak Hasbullah dan kawan-kawan berangkat dari kepedulian terhadap tanah kelahiran yang stagnan begitu saja tanpa ada perkembangan yang signifikan, dari segi ekonomi, budaya, wisata dan lain sebagainya, Madura masih seperti itu-itu saja.

Padahal potensi yang dipunyai Madura terlampau banyak untuk bisa dikembangkan, dari Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia, semua memberikan potensi yang sangat luar biasa, dari Bangkalan sampai Sumenep semua mempunyai ciri khas tersendiri.

Salah satu tujuan dibentuknya MTD harusnya mempunyai peran dalam mengembangkan potensi daerah masing-masing, dari pelestarian budaya sampai pengembangan wisata alamnya.

Namun semua itu membutuhkan proses panjang, butuh kesadaran individu untuk mengabdi kepada Tanah kelahiran kita Madura.

Sampai saat ini proses itu masih menjadi ajang silaturahmi antar Kabupaten di Madura, Orang-orang nya sudah mulai kenal dan akrab sehingga komunikasi semakin lebih mudah, seperti yang dilakukan oleh MTD Bangkalan, Sampang dan Pamekasan, semua orang-orang saling memberi dukungan moril ataupun materiil untuk bisa silaturahmi dalam agenda rutin kegiatan.

Ini menjadi sebuah pondasi untuk tidak berhenti di ajang silaturahmi saja, karena misi sebagai anggota MTD punya peran moril dalam memajukan Madura, potensi wisata, budaya dan memperjuangkan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai pahlawan, ini tidak bisa kita berjuang sendiri, butuh dukungan dari pihak lain untuk mengantarkan Madura menjadi lebih baik lagi.

Malam Nifsu Sya’ban, MTD Trunojoyo gelar Ritual Doa “Kurasan Sumur keramat” di Pebabaran Trunojoyo

Ramah tamah Malam Nifsu Sya’ban

Budaya yang hampir hilang dan dilupakan selama ini, ritual kurasan sumur yang benar adalah di momentun malam Nifsu Sya’ban, bermakna pergantian buku baru untuk kita sebagai manusia memulai hidup baru.

Menurut tokoh budaya Bapak Haji Daiman, air adalah hal yang utama bagi kebutuhan makhluk hidup, air adalah sumber kehidupan, semua orang membutuhkan air, salah satunya air yang bersumber dari sumur, makanya perlu untuk merawat dan berkomunikasi dengan air agar bisa terus mengalir memberikan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Seperti halnya yang dilakukan oleh organisasi MTD Trunojoyo tentang makna filosofi tentang air sumur yang dilakukan di Pebabaran Trunojoyo di malam Nifsu Sya’ban pada hari minggu 28 Oktober 2021, organisasi yang diketuai oleh Gus Fauzan ini memberikan kita dan mengingatkan kita betapa pentingnya kita melestarikan budaya leluhur, karena banyak makna tersembunyi dibalik ritual menghargai pencipta alam semesta.

Acara tersebut sangat sederhana sekali, baca yasin, pembacaan ikrar, air dikuras dan dibuat wudhu oleh orang-orang yang ikut kegiatan tersebut, dan diakhiri ramah ramah dengan menu nasi kobel makanan khas Sampang.

konon air ini banyak sekali khasiatnya untuk kesehatan, air sumur ini sebenarnya sangat keramat, tempat tinggal pahlawan kita Nila Prawata yang dikenal dengan nama Trunojoyo.

Sudah hampir 2 tahun, Pengukuhan Kepengurusan MTD akan dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia

Tepat tanggal 4 Mei 2019 Madoera Tempo Doeloe yang dikenal dengan MTD dirumuskan dan dibentuk oleh para pendiri Bapak Hasbullah dengan kawan-kawan, tepatnya di Universitas Madura Pamekasan.

Perwakilan dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep semua ada membahas visi dan misi terbentuknya MTD Trunojoyo, setiap Kabupaten menyepakati dengan memberi nama MTD berbeda sesuai dengan kesepakatan dengan MTD daerah, sampai hari Bangkalan, Sampang dan Pamekasan sudah ada struktur kepengurusan organisasi, namun Sumenep yang belum ada karena kendala personil yang kurang memadai.

2 tahun sudah sejak 2019 pengukuhan kepengurusan MTD belum kunjung terealisasikan, sehingga semua kegiatan dan agenda banyak tertunda, silaturahmi, sosialisasi, agenda lainnya terkait kebudayaan khas Madura dan juga yang lainnya harus tertunda.

Tahun ini akankah bisa terealisasikan untuk pengukuhan Kepengurusan MTD, yang menurut informasi akan dihadiri oleh Wakil Presiden KH. Makruf Amin, entah ini hanya isu atau wacana saja untuk bisa menyenangkan hati semua anggota MTD, yang jelas MTD selama ini belum kelihatan tindak tanduknya di publik.

Sampang yang terkenal dengan Trunojoyo, Bangkalan yang dikenal Lemah Duwur, Pamekasan yang dikenal dengan Pamekasan Hebat, Surabaya yang dikenal dengan Sawunggaling dan banyak Kabupaten / Kota lainnya akan merasa siap untuk menghadiri dan dikukuhkan sebagai pengurus dan anggota MTD, siap untuk mengabdikan diri dari Madura untuk Indonesia sebagai bentuk rasa Nasionalisme orang Madura, kita tunggu komando dari pusat.

Menunggu Museum Reprentatif, Banyak Tokoh Sampang Ingin Hibahkan Pusaka

Silsilah Raja Majapahit
(Koleksi Iwan Century)

Sampang masih ingin berbenah, dari Pembangunan infrastruktur, perampingan birokrat dan lain sebagainya, seolah membangun pondasi untuk bisa berprestasi lebih maju lagi dan kompetitif.

Terbukti sudah banyaknya penghargaan yang didapatkan oleh Pemkab Sampang, akan tetapi semua penghargaan tetap tidak membuat Pemkab Sampang berhenti berbenah, ini dibuktikan rotasi pejabat dan perampingan birokrat untuk efisiensi lebih lanjut.

Hingga saat ini ada yang terlupakan yakni Museum representatif untuk Pemkab Sampang masih belum terdengar akan adanya pembangunan Museum di tahun 2021 ini, apakah ini dilupakan atau memang ditunda sampai saatnya tiba? Entahlah.

Yang jelas banyak tokoh masyarakat Sampang melalui MTD Trunojoyo ingin menghibahkan barang pusaka untuk ditempatkan di Museum representatif, seperti Bapak Iwan pemilik Century komputer ini, salah satu keturunan Raja terakhir Majapahit ini mengungkapkan rasa kepeduliannya untuk menghibahkan barang pusaka peninggalan leluhurnya ke museum Sampang nantinya.

Ada Bapak Bustomi, Bapak Asfandi, H. Daiman, Ra. Fauzan dan banyak lainnya yang tidak ingin disebutkan namanya dengan banyak koleksi buku, uang kuno dan pusaka lainnya ingin menghibahkan ke Museum representatif, namun karena belum adanya tempat para tokoh Sampang itu harus mengurungkan dulu rencana itu.

Butuh kepedulian Pemkab Sampang di bidang seni dan budaya agar pelestarian seni dan budaya ini bisa diwujudkan dalam satu tempat, yakni Museum Trunojoyo.

Permainan Anak Tempo Doeloe, adakah sampai saat ini?

Permainan tempo dulu sangat digemari dan cukup banyak banyak mengandung banyak filosofis, namun yang utama adalah bentuk sosialisasi dengan teman sebaya dan solidaritas sehingga anak sangat mudah membentuk karakter kepedulian terhadap sesama.


Teknologi jaman ini sudah banyak menggantikan permainan anak tempo doeloe diatas, sehingga rasa solidaritas dan kesetiakawanan tidak terlatih mulai kecil, pentingnya untuk menghidupkan kembali permainan tempo dulu untuk melatih generasi saat ini untuk lebih bisa tumbuh rasa solidaritas kemanusiaan yang tinggi.

Dampak Covid-19 Varian Baru|Haul Pangeran Trunojoyo Tetap dirayakan dengan Skala Kecil

Setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh MTD Trunojoyo tidak lepas dari para ketua, seperti para pimpinan KPK mengambil keputusan, organisasi ini sama juga punya keputusan kolektif kolegeal, satu sama lain mempunyai porsi dan peran masing-masing sesuai dengan kapasitasnya.

Inisiator, konseptor dan eksekutor adalah tipe pimpinan MTD Trunojoyo, H. Daiman, R. Bagus Sulton, R. Achmad Fauzan adalah andalan organisasi MTD Trunojoyo dimana semua harus sinkron untuk merealisasikan semua agenda MTD Trunojoyo ke depannya.

Dan hari ini tanggal 2 Januari 2021 awal kegiatan yang dilakukan untuk mendoakan Pangeran Trunojoyo yang wafat 2 Januari 2021, meskipun hanya dihadiri oleh beberapa orang saja, acara ini tetap dilakukan dengan cara sederhana, hanya ada hidangan minuman air mineral, kopi dan camilan lainnya, namun doa dan tahlil tetap dipanjatkan untuk Pangeran Trunojoyo dan leluhur Sampang.

Tahlil dan doa dipimpin oleh Ustad Suadi yang notabene adalah seseorang Ustad Kondang dari Banyuanyar atau disebut Ju’lanteng, tentunya dengan adanya para Ketua Ki Ageng dan Nyi Ageng dalam memanjatkan doa untuk Sampang menjadi lebih baik.

Haul untuk Pangeran Trunojoyo ini baru pertama kali dilakukan di hari ini Sabtu Tanggal 2 Januari 2021 oleh organisasi kemasyarakatan berbasis budaya yakni MTD Trunojoyo, untuk ke depannya akan dilakukan dengan skala besar setelah pandemi virus covid 19 ini berlalu.