
Banyak budaya yang terdahulu di jaman sekarang ini sudah tidak lagi dilakukan oleh masyarakat modern pada umumnya, karena kecanggihan teknologi dan mudahnya komunikasi juga transportasi banyak menghilangkan jejak-jejak budaya para leluhur yang sudah mendahului kita.
Melalui MTD Trunojoyo banyak budaya mulai diungkap dan dilakukan kembali, salah satu bentuk kepedulian dan pelestarian budaya.
Melalui diskusi ringan yang dilakukan oleh tim kecil, Budaya itu sekarang mahal, karena sudah tidak lagi dilakukan oleh banyak orang, para pembudaya sekarang sangat minim sekali, sehingga banyak orang-orang yang ingin menjadi pembudaya instan yang notabene hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan.
Untuk itu dalam rangka silaturahim antar anggota dan masyarakat Sampang pada umumnya, juga memperat tali silaturahmi, MTD Trunojoyo merayakan hari raya Idul Fitri 1442 H tepat di momentum Telasen Ketopak atau Hari Raya 7 hari, istilah ini dikenal masyarakat Pher-pheran atau Plesiran.
Budaya ini sangat bermakna bagi masyarakat pesisir untuk mengekspresikan kebahagiaan melepaskan penat dengan naik andong atau dokar, setelah sekian lama beraktivitas melakukan ibadah puasa 1 bulan lamanya.
Saat itu masyarakat banyak yang dipinggir jalan berpakaian rapi, menampilkan pakaian yang terbaru dan terbaik melihat dokar ataupun juga menjadi penumpang melihat satu sama lain, dan biasanya ke Brotok atau sumber otok setelah itu kembali.

































































































