Bupati Ultah Ke-49 | Ketua MTD TRUNOJOYO Ucapkan langsung ke Pendopo

Dalam rangka HUT RI Ke-76 bertepatan Hari Ulang Tahun Bupati Sampang H. Slamet Junaidi yang ke-49, ketua MTD Trunojoyo langsung datang bersama rombongan dengan membawa kue ultah dan beberapa makanan minuman untuk diberikan kepada Bupati.

Kedatangan ini special untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke Bupati Sampang H. Slamet Junaidi, dalam doa hadirin yang datang waktu itu “Semoga Bapak Bupati Diberikan Kesehatan dan kesuksesan dalam memimpin Kabupaten Sampang ke depannya”

Ditengah kesibukan Bupati Sampang bisa menyempatkan menemui rombongan untuk merayakan HUT RI ke 76 sekaligus Hari Ulang Tahun Bupati yang Ke 49, ulang tahun yang spesial karena dirayakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dirgahayu ini adalah kegiatan rutin seluruh rakyat Indonesia yang memang perlu di apresiasi oleh bangsa ini sebagai bentuk penghormatan kepada jasa para pahlawan, ketua MTD berpesan “JASMERAH” Jangan sekali-kali melupakan sejarah, mari kita hormati hargai para pejuang dan pahlawan Indonesia.

MTD TRUNOJOYO GELAR TER-ATER TAJHIN SORA | MELESTARIKAN BUDAYA | 1 MUHARRAM 1443 H

Nyi Ageng MTD Trunojoyo

Keberadaan Perkumpulan Komunitas Madoera Tempo Doeloe yang seringkali melestarikan budaya tempo dulu patut diberikan apresiasi, selain mengangkat budaya, sejarah dan ritual ala tempo dulu, MTD Trunojoyo seringkali bersinergi dengan para tokoh ulama dan budayawan guna mengulik riwayat para leluhur.

Salah satu kegiatan di bulan Sorah adalah Ter-Ater Tajhin Sora yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1443 yang dikenal Tahun Baru Islam, momentum ini tetap bisa dilaksanakan dengan prokes, karena masa pandemi acara harus dibatasi untuk tidak terlalu banyak yang berkerumun.

Rangkaian acara dari renungan malam 1 Sora, memasak Tajhin Sora di Pebabaran Trunojoyo, dilanjutkan Ter-Ater ke Kapolres, Pendopo dan Kantor Wabup yang diterima oleh Ibu Wabup, namun sayangnya Kodim tidak mau untuk dianterin Tajhin Sora ini.

Budaya ini harus dilestarikan kembali, untuk mengenalkan kepada generasi muda masa kini, mereka generasi muda butuh teladan dari kita yang masih peduli dalam pelestarian budaya, bahwa leluhur kita dari dahulu sudah berbudaya dengan segala hal yang sudah dilakukan untuk menghargai menghormati pencipta alam semesta beserta isinya.

MTD Trunojoyo dilirik Gubernur & Wakil Gubernur Jatim untuk Melestarikan Budaya asli Madura

Kunjungan Bupati Sampang
Ke Pebabaran Trunojoyo

Kegiatan MTD Trunojoyo seringkali menjadi perbincangan publik, karena seringkali mengangkat budaya asli tempo dulu, melestarikan budaya yang sudah hampir punah karena minimnya pelaku budaya atau pegiat budaya yang bisa di publikasikan dan dikenalkan kepada generasi muda saat ini.

Kegiatan yang cukup menggemparkan adalah Ter-Ater Tajhin Sappar yang sempat viral, banyak media yang Meliputnya, hingga sampai juga informasi ke gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur, dan tentunya sangat menarik hati dengan adanya komunitas yang masih melestarikan budaya ini.

Dengan adanya kegiatan tersebut, Bapak Wakil Gubernur Emil Dardak melalui koleganya memberikan informasi kepada komunitas MTD Trunojoyo untuk terus melestarikan budaya yang lainnya juga di setiap moment, hingga saatnya tiba Gubernur dan wakil gubernur akan datang langsung ke Pebabaran Trunojoyo Sampang.

Hingga saat ini MTD Trunojoyo akan mengadakan moment untuk 1 Muharram 1443 H, tahun baru Islam, dari renungan malam 1 Syuro, memasak Tajhin Sora, dan juga Ter-Ater, semua akan dikemas budaya tempo dulu.

Peduli Bahasa Madura, Pustakawan membuat kelas Bahasa Madura, sangat ironi, kenapa bukan Disdik Sampang?

Nurul Aini adalah seorang pustakawan asal Nganjuk dan satu-satunya di Kabupaten Sampang yang berstatus ASN (Aparatur Sipil Negara), Ibu Nurul adalah inisiator sekaligus eksekutor kelas Bahasa Madura yang bisa diikuti oleh umum dengan jadwal hari selasa dan hari Kamis jam 15.00 WIB di Aula Arsip Daerah (ARDA) Kabupaten Sampang.

Dalam pembicaraan santai dengan bu Nurul di perpustakaan Sampang, Bu Nurul menjelaskan panjang lebar awal terbentuknya kelas Bahasa Madura yang sudah pernah dilakukan sebelum kelas yang baru ini terealisasikan, kelas Bahasa Madura pernah dijalankan dan dilakukan dengan para pemuda yang peduli dengan budaya Bahasa ibu, namun di tengah jalan sempat terhenti karena masalah anggaran.

Betapa sangat pentingnya Bahasa Madura ini untuk dipelajari lebih lanjut, selain Bahasa Ibu, Bahasa Madura ini adalah budaya, perilaku, tata krama untuk generasi penerus kita, sangat lucu ketika orang Madura tidak menjadi Madura itu sendiri, sangat terbukti ketika orang Madura banyak yang tidak bisa menerapkan Bahasa ibu dengan baik, tentu sangat penting kelas Madura ini dipelajari lebih lanjut.

Yang menjadi menarik dan sangat ironi tentang siapa yang mengadakan dan menjadi inisiator pelatihan kelas Madura ini, kenapa harus seorang pustakawan yang bertugas di Arsip Daerah Kabupaten Sampang, kenapa bukan orang Dinas Pendidikan yang peduli kepada Sekolah guru dan siswa yang notabene ada Kegiatan Belajar Mengajar, orang Dinas Pendidikan seharusnya lebih peduli daripada pustakawan, apalagi seorang pustakawan bukan orang Madura asli, namun ia lebih peduli terhadap perkembangan budaya Bahasa lokal Bahasa Ibu, sungguh ironi.

Ini tentang budaya, ini tentang leluhur, tentang generasi anak-anak kita selanjutnya, kepentingannya adalah menciptakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni, peduli terhadap peninggalan warisan leluhur, sudah seharusnya pemangku kebijakan lebih mementingkan budaya lokal, menggali budaya warisan leluhur, salah satunya adalah bahasa Ibu bahasa Madura, bumi kita, tempat tinggal kita, jangan sampai kita ditanya orang luar Madura, kira bisa tidak bisa memahami peninggalan warisan leluhur, ungkap H. Mahmud.

Untuk ke depan kami akan mengundang guru khusus ke Sekolah-sekolah untuk belajar bersama, karena dalam prakteknya masih banyak guru yang membutuhkan bimbingan dalam kegiatan belajar bahasa Madura, dari pengucapan ataupun penulisannya, imbuh Bu Nurul menambahkan.

Sebuah pilihan hidup, Meninggalkan atau ditinggalkan?

Sebuah kehidupan memberikan kita pilihan, dan kita harus memilih salah satu jalan kehidupan, tentunya kita juga tidak bisa menolak sebuah suratan takdir yang dituliskan kepada kita, karena itu merupakan sebuah garis kehidupan bagi makhluk semesta alam.

Pilihan hidup hanya ada 2, ditinggalkan atau meninggalkan, bisa saja kita yang ditinggalkan atau kita meninggalkan, sebuah pilihan yang sangat dilematis yang harus kita pilih.

Sebuah kisah perjalanan kehidupan setiap insan akan berbeda satu sama lain, kita saat ini bisa saja bersama, bahagia, bercanda, menulis kisah bersama orang-orang yang kita cintai, namun apakah diwaktu akan datang, dalam hitungan detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun, apakah kita masih bersama dengan orang-orang yang kita cintai?

Sebuah pertanyaan paling dasar yang seringkali dilupakan oleh kita sebagai manusia, sebuah kebersamaan hari ini adalah hal yang biasa tanpa kita sadari orang-orang dekat kita atau kita bisa saja meninggalkan, entahlah, semua adalah sebuah rahasia sang Pencipta kepada makhluk ciptaan Nya.

Kehilangan seseorang akan menyimpan banyak kenangan, menyisakan kesedihan yang sangat dalam bagi orang-orang yang terbiasa bersama, waktu seolah berhenti dan tidak pernah kita mempercayainya, seolah itu mimpi yang datang dan pergi, namun itulah yang harus kita lalui dan memang harus terjadi, ada yang harus datang dan ada yang harus pergi, begitulah kehidupan.

Meskipun terkadang kita sering menyiakan, meremehkan, bahkan kita pernah berbuat dosa terhadap orang yang kita cintai, ketika sudah tiada orang yang cintai, baru kita akan merasakan begitu sangat berharganya seseorang yang selama ini memberikan kita kebahagiaan, apalagi itu adalah orang tua kita.

Untuk itu mari kita renungkan, sebuah perjalanan hidup kita, dari kita baru dilahirkan sampai hari ini, siapa yang banyak berperan mengajari memberikan kasih sayang kepada kita, sampai kehidupan yang layak seperti ini.

Ucapkan bismilah untuk mengawali dan akhiri dengan Alhamdulillah, sebuah ungkapan rasa syukur kita masih bisa seperti ini, lakukan sesuatu untuk untuk orang yang telah pergi terlebih dahulu meninggalkan kita, kirimlah doa untuk semua orang yang pernah bersama kita, karena sesungguhnya mereka menanti kita dibatas pemisah ini.

MTD Trunojoyo berduka, “Selamat Jalan Bunda Surawati”

Kematian adalah sebuah suratan takdir setiap insan yang hidup di muka bumi ini, tidak ada satupun manusia bisa menghindarinya, tidak seorangpun bisa mencegah kematian seseorang ataupun menundanya, semuanya adalah suratan takdir dan hanya Allah yang tahu segalanya.

Bunda Surawati orang-orang memanggil beliau, seorang yang sudah sepuh namun tidak mematahkan semangat untuk selalu memberikan sumbangsih kepada siapapun yang membutuhkan, semangat juang dan loyalitas terhadap MTD sungguh sangat luar biasa, sudah berapa kali dan tidak terhitung beliau membantu bisa merealisasikan kegiatan di MTD Trunojoyo, beliau adalah salah satu penggerak dalam setiap kegiatan.

Di setiap momentum kegiatan meskipun berhalangan datang, beliau selalu menitipkan sesuatu untuk diberikan kepada MTD Trunojoyo, sebuah pengabdian dan keihklasan hatinya yang tiada tara untuk misi kemanusiaan.

Dan kini beliau sudah meninggalkan kita semua, para Nyi Ageng Ki Ageng semua turut berduka, seolah berita yang tidak bisa dipercaya, karena seperti baru kemarin kita masih bersama, bercanda di rumah kita Pebabaran Trunojoyo, makan bersama bahkan kita saling mengejek dengan candaan budaya ala MTD.

Selamat jalan Bunda Surawati, Innalillahi wainnailaihi rojiun, semoga diberikan tempat yang terbaik untuk Bunda, diampuni segala Dosa-doa, kami hanya bisa mendoakan untuk Bunda yang terbaik.

Peduli Budaya Bahasa Krama, Arda Kabupaten Sampang gelar Pelatihan Bahasa Madura

Salah satu unsur yang harus dilestarikan oleh Pemerintah Daerah dalam berbudaya adalah bahasa lokal yang harus dikuasai, karena bahasa adalah simbol bahasa ibu yang memang wajib dikuasai oleh setiap orang yang tinggal di bumi tersebut.

Bahasa lokal sekarang ini sepertinya sudah menjadi bahasa asing yang sulit dipelajari dengan baik dan benar, dari generasi ke generasi bahasa ibu atau bahasa lokal hanya bisa diterapkan bahasa sehari-hari yakni bahasa kasar atau ngoko, padahal kita tahu bahasa lokal ada beberapa tingkatan.

Bahasa yang sering kita pakai sehari-hari adalah bahasa yang umum atau bahasa kasar, namun untuk tingkatan bahasa yang halus kita kadang lebih sering mencampur bahasa kasar dan sedikit halus, bahkan banyak terselip bahasa Indonesia karena memang kita pada umumnya sangat minim kosakata bahasa halus.

Salah satu bentuk kepedulian Arsip Daerah Sampang kepada masyarakat Sampang pada umumnya adalah dengan mengadakan pelatihan kepada beberapa orang asli daerah yang mau dan peduli, karena tidak semuanya orang daerah peduli terhadap bahasa ibunya sendiri, meskipun asli daerah sana.

Ini merupakan kemajuan bagi Pemerintah Kabupaten Sampang melalui Arsip daerah dan perpustakaan untuk mengadakan pelatihan ini hingga beberapa bulan ke depan.

Sangat ironi memang, program ini yang harusnya dilakukan oleh Dinas Pendidikan Sampang kepada guru-guru yang membutuhkan untuk diajarkan kepada peserta didiknya, Namun itu semua tidak terjadi, yang lebih peduli malah Dinas Arsip Daerah.

Pelatihan ini menurut pemateri Bapak Bustomi akan digelar seminggu 2 kali dan berakhir sampai bulan Oktober, sudah seharusnya ini pelatihan ini dijadikan ajang penerapan budaya bahasa lokal, budaya bahasa daerah untuk menjadikan orang Madura menjadi orang Madura seutuhnya.

Melestarikan Budaya, MTD Trunojoyo Ter-Ater Ketopa’ Ke Pendopo Trunojoyo

Bapak dan Ibu Bupati Sampang
Keluarga Besar MTD Trunojoyo

Budaya ter-Ater yang dulu hampir tiap tahun diadakan oleh masyarakat pada umumnya di Jawa utamanya di Madura, kini sudah mulai terkikis, hidup rukun bertetangga saling mengantar hasil olahan makanan setiap moment lebaran Id dan hari lebaran 7 hari yang dikenal dengan hari raya ketupat.

Melalui MTD Trunojoyo budaya yang punah, hampir punah ataupun yang masih dilakukan kini sudah mulai di hidupkan dan dilestarikan kembali, apalagi budaya tersebut mengandung budaya yang punya makna filosofi tinggi, sehingga mau tidak mau harus dipaksa dihidupkan dan dilestarikan kembali agar tidak hilang.

Menurut Budayawan MTD H. Daiman Ada 7 ter ater (tenong atau tepsi) mengingat ini ter-ater ke sang Raja maka alangkah baiknya Nyi ageng nyo’on dengan kepala tiap tenong atau tepsi start dari gerbang pendopo sampai masuk pendopo harus berjalan kaki, tentunya olahan dan hiasan terbaik untuk diberikan kepada sang raja, dalam hal ini yang berperan adalah Bapak Bupati Sampang.

Sebelum berangkat di Pebabaran harus didoakan terlebih dahulu, sampai di Pendopo juga harus didoakan agar setiap makanan yang disajikan bisa barokah untuk kita dan untuk kebaikan seluruh rakyat Sampang dan negeri ini, karena makanan yang didoakan dan dibagikan merupakan sebuah simbolik dari MTD untuk semua.

Bupati Sampang menyambut kedatangan keluarga besar MTD Trunojoyo di Pendopo Trunojoyo, dengan didampingi Ibu Bupati keluarga besar MTD dipersilahkan untuk masuk memberikan hantaran dan dipersilakan duduk untuk sekedar ramah tamah, doa dan diakhiri foto bersama, setelah itu kita kembali ke Pebabaran Trunojoyo untuk makan ketupat bersama, tidak lupa juga didampingi oleh beberapa petugas keamanan.

MTD Trunojoyo, Warna-warni Pengabdian untuk Negeri

Dalam diskusi kecil bersama Bapak Bagus, Pak Roni, H. Daiman dan Gus Fauzan, yang menjadi sorotan adalah adalah peran MTD dalam melestarikan budaya dan pengembangan wisata di Kabupaten Sampang.

MTD Trunojoyo Ikut andil dalam membantu Pemerintah Daerah, bukan mengemis dana kepada Pemerintah, alangkah baiknya MTD ini menggunakan biaya sendiri hasil urunan dari teman-teman anggota dan pengurus, justru dengan kekuatan seperti itu MTD bisa bebas mengekspresikan gerakan tanpa harus diatur oleh Pemerintah Daerah.

Jika Pemerintah Daerah membutuhkan MTD, mari kita bantu dan dukung sebisa dan semampu kita, untuk kepentingan bersama dalam memajukan kabupaten Sampang ini.

Kekuatan MTD Trunojoyo ini adalah anggota yang militan mempunyai loyalitas tinggi untuk organisasi ini, justru dengan mengeluarkan biaya sendiri, sumbangan setiap ada acara akan sangat diuji loyalitasnya, sebagai pengurus dan anggota MTD Trunojoyo.

Belajar dari pengalaman organisasi yang lain berorientasi money oriented, organisasi itu tidak akan bertahan lama, pasti ada perebutan kekuasaan, proyek dan perebutan peranan lainnya, sehingga tercipta konflik yang berpotensi membubarkan organisasi itu.

MTD jangan pernah mengemis proyek untuk mengadakan kegiatan, MTD harus bisa mandiri secara mandiri, karena organisasi ini bukan untuk mencari proyek, namun salah satu bentuk pengabdian kita untuk bisa memberikan sumbangsih kepada negara melalui pelestarian budaya.

Yang lalu biarlah berlalu, pengalaman yang sudah kita lalui biarkan menjadi pengalaman kita hari ini dan esok hari, pengalaman adalah hal yang sangat berharga untuk kita bisa seperti ini, meskipun kita pernah di tipu mentah-mentah oleh beberapa oknum dari kita untuk kepentingan pribadinya, kita harus juga legowo, itulah pelajaran yang sangat berharga, semuanya hari ini harus kita rangkul, karena itu merupakan kedewasaan kita menerima banyak peran masing-masing.

Terakhir, kita sudah tahu siapa yang membantu kita selama ini secara diam-diam tanpa harus banyak orang tahu, patut diacungi jempol untuk pembina kita sudah banyak membantu MTD Trunojoyo selama ini baik moril dan materiil, kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, namun sekumpulan orang yang mengabdikan diri untuk negeri tercinta ini melalui MTD.

Untuk itu mari kita samakan visi misi untuk pergerakan pengabdian untuk negeri, meminjam istilah Bapak Bangsa Bung Karno “Apa yang bisa kau berikan kepada negara” Bukan sebaliknya, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H, Mohon Maaf lahir bathin, Terima kasih