
Nurul Aini adalah seorang pustakawan asal Nganjuk dan satu-satunya di Kabupaten Sampang yang berstatus ASN (Aparatur Sipil Negara), Ibu Nurul adalah inisiator sekaligus eksekutor kelas Bahasa Madura yang bisa diikuti oleh umum dengan jadwal hari selasa dan hari Kamis jam 15.00 WIB di Aula Arsip Daerah (ARDA) Kabupaten Sampang.
Dalam pembicaraan santai dengan bu Nurul di perpustakaan Sampang, Bu Nurul menjelaskan panjang lebar awal terbentuknya kelas Bahasa Madura yang sudah pernah dilakukan sebelum kelas yang baru ini terealisasikan, kelas Bahasa Madura pernah dijalankan dan dilakukan dengan para pemuda yang peduli dengan budaya Bahasa ibu, namun di tengah jalan sempat terhenti karena masalah anggaran.
Betapa sangat pentingnya Bahasa Madura ini untuk dipelajari lebih lanjut, selain Bahasa Ibu, Bahasa Madura ini adalah budaya, perilaku, tata krama untuk generasi penerus kita, sangat lucu ketika orang Madura tidak menjadi Madura itu sendiri, sangat terbukti ketika orang Madura banyak yang tidak bisa menerapkan Bahasa ibu dengan baik, tentu sangat penting kelas Madura ini dipelajari lebih lanjut.
Yang menjadi menarik dan sangat ironi tentang siapa yang mengadakan dan menjadi inisiator pelatihan kelas Madura ini, kenapa harus seorang pustakawan yang bertugas di Arsip Daerah Kabupaten Sampang, kenapa bukan orang Dinas Pendidikan yang peduli kepada Sekolah guru dan siswa yang notabene ada Kegiatan Belajar Mengajar, orang Dinas Pendidikan seharusnya lebih peduli daripada pustakawan, apalagi seorang pustakawan bukan orang Madura asli, namun ia lebih peduli terhadap perkembangan budaya Bahasa lokal Bahasa Ibu, sungguh ironi.
Ini tentang budaya, ini tentang leluhur, tentang generasi anak-anak kita selanjutnya, kepentingannya adalah menciptakan Sumber Daya Manusia yang mumpuni, peduli terhadap peninggalan warisan leluhur, sudah seharusnya pemangku kebijakan lebih mementingkan budaya lokal, menggali budaya warisan leluhur, salah satunya adalah bahasa Ibu bahasa Madura, bumi kita, tempat tinggal kita, jangan sampai kita ditanya orang luar Madura, kira bisa tidak bisa memahami peninggalan warisan leluhur, ungkap H. Mahmud.
Untuk ke depan kami akan mengundang guru khusus ke Sekolah-sekolah untuk belajar bersama, karena dalam prakteknya masih banyak guru yang membutuhkan bimbingan dalam kegiatan belajar bahasa Madura, dari pengucapan ataupun penulisannya, imbuh Bu Nurul menambahkan.