Makna Filosofi “Indandip”Permainan Khas Sampang

Perkembangan teknologi semakin memudahkan kita untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan mudah di seluruh dunia, segala bentuk informasi bisa dengan mudah didapatkan, semakin cepat dan semakin mudah dengan satu alat gadget.

Dampak teknologi yang didapatkan hari ini merubah banyak permainan yang berbudaya, anak milineal lebih nyaman dan terus kecanduan yang namanya gadget, mereka lebih asyik sendiri dengan temannya di dunia maya tanpa harus bertatap muka langsung, makanya ada istilah yang sering kita dengar hari ini, yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat.

Permainan budaya untuk anak milineal utamanya saat ini hampir tidak ada, padahal dahulu banyak sekali permainan yang mempunyai makna filosofis yang tinggi, tentunya orang-orang terdahulu tidak meciptakan sembarangan untuk salah satu jenis permainan ini yakni “Indandip“.

Tidak banyak yang tahu permainan ini yang diciptakan sekitar tahun 1965, lagu Indandip ini dinyanyikan pertama kali oleh Rhoma Irama, namun jenis permainannya asli dari Sampang Madura, Permainan Indandip bisa dimainkan oleh 7, 11, 21, 33 Orang dengan membentuk kotak dengan ujung oval, makna bentuk ini adalah bentuk yang langsung besentuhan tanpa harus ada yang terluka jika ujung sudut lancip.

Setiap orang harus pada posisi yang sudah diatur dengan memegang benda dari tanah liat atau bahan genteng yang berwarna merah dan tentunya sudah dibentuk kotak yang sudah elips, makna benda dari bahan dasar tanah liat ini adalah bahwa manusia terbuat dari tanah liat dan warna merah mewakili hati manusia yang kecil namun sangat mempengaruhi kepribadian manusia.

Pentingnya permainan Indandip ini dimainkan oleh generasi milenial utamanya karena permainan ini mengandung makna filosofi yang sangat mendalam dalam membentuk sebuah energi yang bisa menyatu kepada sang Pencipta alam semesta

Menurut budayawan muda Haji Daiman Sang Inspirator, permainan ini adalah salah satu bentuk permainan yang harus dilestarikan oleh generasi yang masih peduli untuk generasi milenial agar tidak terjebak dengan keasyikan kecanduan gadget saja, selain melestarikan budaya leluhur, permainan ini bisa menguatkan solidaritas persahabatan dan kepedulian terhadap kemanusiaan dan Ketuhanan.

Tinggalkan komentar