
Dalam dinamika organisasi tentunya akan sangat dinamis, setiap pengurus dan anggota tentunya akan selalu inten dalam berkomunikasi dan merealisasikan visi dan misi yang sudah disepakati dalam organisasi.
Konflik pastinya ada, karena untuk menyelaraskan karakter individu yang berbeda satu sama lain dalam cara berpikir dan berpendapat maupun etika organisasi yang juga harus dipatuhi.
Setiap organisasi ada aturan yang harus dipatuhi, lingkup internal ataupun eksternal, aturan tertulis ataupun tidak tertulis, ini mencakup etika dalam berorganisasi, tentunya aturan yang sudah disepakati sebelumnya.
Jika ada salah satu anggota dan pengurus berselisih paham tentunya harus segera diselesaikan secara internal, jika ada hal yang kurang baik bisa dikoreksi melalui forum dan segera mungkin untuk dibenahi.
Gerakan MTD adalah gerakan moral, murni swadaya dalam merealisasikan program kerja kegiatan, semua anggota yang ada didalamnya berproses saling berinteraksi satu sama lain, orang-orangnya semua akan terseleksi secara alami, semua individu akan teruji loyalitasnya terhadap organisasi.
Menyambut hari Pahlawan Nasional Indonesia, MTD gelar 1000 Doa Yasin untuk mendoakan dan memperjuangkan Pangeran Trunojoyo untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional, perjuangan MTD ini dari arus bawah dan terkesan sangat sederhana.
Disisi yang lain acara yang sederhana ini kurang diminati oleh anggota MTD lainnya, hanya beberapa anggota yang merespon, tidak seperti acara sebelumnya yang meriah apalagi ada Bapak Bupati Sampang yang menyita banyak perhatian, semua seolah ingin cari perhatian untuk bisa berswafoto dengan Bupati Sampang.
Jika acara ini sepi dan tidak diminati oleh anggota lain juga masyarakat pada umumnya, mungkin ini yang disebut Nestapa, kita orang Sampang, orang Madura tidak tahu dan peduli, atau pura-pura tidak tahu dan tidak mau peduli pada sejarah perjuangan leluhur yakni R. Nila Prawata yang berjuluk Pangeran Trunojoyo bergelar Panembahan Maduratna.
MTD Trunojoyo memulai gerakannya dari Chok Bhumi, menjelang Hari Pahlawan Nasional Indonesia ini adalah kelanjutannya dari awal perjuangan untuk Pangeran Trunojoyo sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, jangan hanya mengambil Namanya saja, namun tidak ada hal yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan dari nama yang diambilnya.