Sekilas Alkisah Kepahlawanan Trunojoyo, Gaungnya masih menggelegar “10 November 2020”

Lukisan Pangeran Trunojoyo
(Zamawi Imron)

Trunojoyo sosok yang sangat fenomenal sampai saat ini, gelar kepahlawanannya sangat ditunggu oleh seluruh rakyat Indonesia, namun sampai saat ini belum juga Indonesia menetapkan gelar kepahlawanannya kepada sosok Pangeran Trunojoyo.

Masyarakat Indonesia pada umumnya sudah mengenal nama Trunojoyo, dari nama bandara, nama kuliner ataupun nama jalan yang hampir ada diseluruh Indonesia menunjukkan bukti otentik bahwa Trunojoyo sudah banyak dikenal dan tidak asing lagi nama Trunojoyo.

Raden Nila Prawata adalah nama aslinya, Pangeran Trunojoyo adalah julukannya yang artinya Pemuda yang Jaya dan bergelar Panembahan Maduratna, Trunojoyo asal dari Sampang Madura (tempatnya di Pebabaran Trunojoyo) cucu dari Raden Praseno atau Cakraningrat I.

Munculnya Pemberontakan Trunojoyo murni adalah perjuangan, atas nama penindasan dan pemerasan terhadap rakyat jelata, ditambah Amangkurat sebagai raja Mataram bekerjasama dengan VOC, padahal ayahnya Sultan Agung selama memerintah Mataram sangat menentang VOC, sangat bertolak belakang dengan anaknya yang berkompromi dengan VOC.

Sejak Amangkurat memerintah rakyat banyak tertindas, banyak rakyat tidak suka dengan Amangkurat, banyak ulama dan abdi dalem Kerajaan dibunuh, ini tidak lepas dari provokasi VOC, semua dicurigai sehingga timbul mosi tidak percaya terhadap orang dekat raja, termasuk anaknya Adipati Anom.

Dan pada akhirnya muncullah sang Pahlawan yang peduli dan tidak rela rakyat menjadi korban terus-menerus dijajah, dengan didukung oleh Ulama Pangeran Kajoran (Mertua Trunojoyo) dan tokoh pejuang Kraeng Galesong dan Kraeng Bonto yang berasal dari Bugis, Trunojoyo mulai melakukan pemberontakan dimulai dari Madura sampai ke Plered (Kerajaan Mataram) satu persatu dikuasainya, dengan semangat membela keadilan dan memberantas penindasan yang selama ini dilakukan oleh Amangkurat.

Trunojoyo yang selama ini ditulis oleh sarjana Belanda bahwa pemberontakan Trunojoyo dilakukan untuk merebut kekuasaan dan nafsu pribadi untuk menjadi raja, nyatanya tidak bisa dibuktikan, pemberontakan Trunojoyo murni menegakkan keadilan untuk kesejahteraan rakyat banyak.

Yang menjadi misteri sampai saat ini adalah kematian Trunojoyo dan tempat pemakamannya, berawal bujuk rayu paman Trunojoyo Cakraningrat II yang menemui Trunojoyo dalam pelarian di Ngantang, dan akhirnya Trunojoyo terpengaruh bujuk rayu sang paman untuk menyerahkan diri kepada Amangkurat II.

Pangeran Trunojoyo akhirnya diikat dengan kain sutra dan dibawalah ke Mataram, kerisnya diserahkan kepada pamannya, salah satu versi mengatakan Trunojoyo ditikam oleh pamannya dari belakang dengan keris Trunojoyo sendiri, di satu versi Trunojoyo ditembak mati oleh pasukan VOC di Ngantang, namun dari beberapa versi Trunojoyo ditikam oleh Amangkurat II dengan keris Trunojoyo di Mataram.

Dari beberapa versi mungkin yang banyak dipercaya oleh masyarakat yakni dibunuh oleh Adipati Anom atau Amangkurat II, karena salah satu alasan yang paling kuat adalah dendam kesumat, lebih kepada faktor keluarga, ayahnya Adipati Anom meninggal karena pemberontakan Trunojoyo dan adiknya Adipati Anom yang dinikahi oleh Trunojoyo.

Semangat dan perjuangan Trunojoyo sampai hari ini masih bergetar dan nyaring bunyinya di seluruh penjuru untuk ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, meskipun sampai hari ini makam Pangeran Trunojoyo dipolitisir oleh keluarga Amangkurat dan VOC, ada yang bilang di Imogiri, Moksa dan ada juga badan dan kepala di makamkan terpisah, namun tempatnya sampai hari ini simpang siur.

Hanya Pebabaran Trunojoyo yang ada di Sampang menjadi satu-satunya tempat bersejarah, tempat ari-ari Trunojoyo, bangunan itu masih ada dan sekarang sudah dikelola oleh MTD Trunojoyo, semangat Trunojoyo akan tetap bergaung melalui orang-orang yang tulus, perjuangan Trunojoyo belum tuntas melalui generasi kita hari ini untuk berjuang memberantas keadilan demi kemaslahatan umat dan keutuhan berbangsa sebagai identitas diri bangsa Indonesia, Ingatlah Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Tinggalkan komentar