
Sampang – Banyaknya situs sejarah di kabupaten Sampang yang kurang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sampang, menimbulkan banyaknya versi tentang sejarah yang ada.
Salah satunya, tentang sejarah asal usul pangeran trunojoyo, Raden Qobul hingga Pangeran Mangkumi, Situs Putri Nanti atau yang lebih dikenal Batu Kucing dan Raden Aryo Wiryo Diningrat hingga situs-situ sejarah lainnya di Kabupaten Sampang.
Ketua madura tempoe doeloe (MTD) Sampang Raden Ahmad Fauzan alias Gus Fauzan mengatakan, banyaknya situs sejarah beserta budayanya sudah banyak yang terkikis oleh waktu. Hal itu lantaran kurang perhatian pemerintah daerah selama ini khususnya organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dalam ikut serta melestarikannya.
Selain itu, OPD terkait juga dinilai kurang maksimal dalam menjaga situs-situs sejarah beserta budaya yang ada, hal itu terbukti dengan banyaknya situs yang mengalami banyak perubahan, akibat dampak pengembangan dan perbaikan situs-situs tersebut.
“Selama ini banyak situs yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat, sehingga dengan ketidakpahaman masyarakat dan pemerintah dalam menjaga situs setempat agar tetap utuh yang memperkuat budayanya sehingga banyak mengalami perubahan, dan ini sangat disayangkan,” katanya.
Fauzan berharap, situs yang masih ada agar tetap dijaga dan dilestarikan budayanya. Seperti situs makam ratu ibu di kelurahan polagan sampang.
“Nah selama ini pemerintah hanya terfokus disitus ratu ibu dan makam Buyut Napo kecamatan omben yang masih kuat budayanya,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Bagus Sulton Wakil ketua MTD Sampang, menurutnya banyak perubahan situs sejarah yang meninggalkan cagar budaya aslinya, salah satunya di tempat pertapaan Raden Qobul atau yang lebih dikenal buyut aji gunung.
“Yang saya tahu dulu ditempat pertapaan Raden Qobul itu memiliki kedalaman setinggi dada orang dewasa, tapi saat ini sdah hanya sekitar 30 cm saja,” katanya.
Selain itu, kurangnya pemahaman masyarakat dan pemerintah dalam mengenal silsilah tentang sejarah.
“Selama ini banyak peziarah ke Sampang langsung menuju buyut batu ampar atau buyut napo. Harusnya, sebelum peziarah kesana harus melakukan ziarah terlebih dahulu ke buyut aji gunung atau raden qobul, setelah itu baru ke napo, batu ampar dan buyut prajjan,” tandasnya.
Dalam hal ini perlu adanya persamaan persepsi, sehingga silsilah situs sejarah religi di kabupaten sampang bisa dipatenkan.
“Sulit memang, Karena persepsi itu sudah berjalan turun temurun, tapi tidak ada salahnya dicoba dengan keterbatasan referensi tertulis, di Disparpora tidak ada yang kuat sejarahnya. Kedepan kita akan adakan seminar bedah sejarah di Kabupaten Sampang, dengan mendatangkan para ahli atau para pakar sejarah,” Pungkasnya. (RIF)