Sadar Sejarah Budaya Warisan Leluhur sebagai identitas Jati Diri Bangsa, Sang Maestro Muda MTD Trunojoyo Sampang “Gus Kochak”

Ba Daiman

Apa yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua telah ditulis dalam suratan takdir manusia, sebuah rahasia sang Pencipta yang tidak mungkin bisa diketahui oleh makhluknya, setiap pertemuan kita dengan seseorang seolah memberi pelajaran tentang hidup, saling berbagi dan selalu membuat manusia harus terus berpikir memaknai yang tersirat dari yang tersurat.

Ba Daiman orang memanggilnya, pengusaha muda yang dikenal dengan petis meskipun banyak jenis produk usahanya, menjadi rujukan UMKM Kabupaten Sampang karena terkenal dan dikenal pengusaha yang kreatif, pernah mendapatkan penghargaan tingkat nasional sebagai Enterpreneur muda.

Selain pengusaha Ba Daiman lebih dikenal sebagai tokoh muda yang memahami sejarah dan budaya warisan leluhur, mulai dari sejarahnya keluarga sendiri sampai berhubungan dengan sejarah tanah Madura dan Jawa, selain itu ia dikenal mempunyai banyak kitab kuno dan barang antik lainnya, seperti serad, keris, tombak, pedang dan alat musik kuno logam.

Sebagai orang yang memahami sejarah dan budaya, ia sering menjadi rujukan di Disporabudpar bidang kebudayaan, namun ia sempat trauma karena waktu itu hanya dimanfaatkan oleh orang Dinas untuk mengambil keuntungan pribadinya, mungkin yang baru datang beberapa waktu menggantikan pejabat yang terdahulu bisa menjadi lebih baik menjalankan tugas negara.

Ba Daiman akan melakukan apapun untuk kepentingan masyarakat Sampang, salah satunya adalah melestarikan sejarah dan budaya Sampang yang hampir punah dan tidak tempat situs purbakala, mungkin karena ketidaktahuan masyarakat pada umumnya dan para pejabat daerah situs Madegan kurang mendapatkan perhatian, padahal situs kerajaan Madegan ini adalah situs kota tua satu-satunya yang ada di Kabupaten Sampang, konon situs Madegan ini saat ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi.

Satu-satunya sekarang yang ada menyisakan peninggalan sejarah warisan leluhur Kabupaten Sampang yang ada di Pababaran Trunojoyo, tempat kelahiran Pangeran Trunojoyo, tempat ari-ari Pangeran Trunojoyo dikuburkan sekaligus Dhalem (Rumah) Pangeran Trunojoyo menjadi bukti otentik yang mengandung nilai sejarah, namun sangat disayangkan tempat ini kurang mendapatkan perhatian dari pihak Pemerintah Daerah, untuk itu jangan biarkan peninggalan ini juga dikuasai oleh pihak luar Sampang.

Ba Daiman sebagai pelopor yang memproklamirkan dan menisiasi masyarakat Indonesia melalui Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo untuk bisa melestarikan situs budaya yang mengandung nilai sejarah, karena nilai sejarah itu mahal, ia pernah bercerita ingin menukar sepeda motor miliknya dengan kepunyaan salah satu Kiai yang punya warisan tombak dari ayahnya, namun ia tidak mau, orang tersebut menjawab dengan lugas bahwa nilai historis dari tombak itu tiada tandingan dan bandingannya, saya tidak tidak bisa menukar dengan apapun ucapnya, begitulah nilai-nilai sejarah dan leluhur kita, sangat mahal dan tidak ada tandingan dan bandingannya.

Perjuangan Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo masih sangat panjang untuk memberi pencerahan dan menyadarkan masyarakat agar sadar dengan identitas diri warisan leluhur sebagai jati diri sebuah bangsa, banyak tokoh idola leluhur kita yang bisa kita jadikan panutan, kita kaya dengan sejarah dan budaya, tidak perlu meniru budaya asing, karena di Nusantara ini adalah pusat peradaban dunia.

Dimulai dari lembaga atau komunitas Seni budaya di Sampang yang harus disatukan dalam satu wadah, mereka mempunyai ciri khas sendiri dengan segala kelebihannya, perlu sinkronisasi dan kerjasama dari semua pihak, masyarakat harus disadarkan bahwa sejarah sangat berharga, mari kita satukan visi misi ini dan berikan pencerahan terhadap masyarakat luas agar Sadar Sejarah dan Budaya sembari melestarikan situs sejarah yang ada di sekitar sebagai bentuk penghargaan dan jati diri bangsa, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.

Tinggalkan komentar