
Bahasa Madura menjadi banyak perhatian dari tokoh budaya Madura, seperti Bapak Bustomi dan Bapak Haji Daiman, orang Madura tapi bukan Madura, istilah yang cocok mungkin, karena mayoritas orang Madura seringkali salah dalam berbahasa tutur halus pengucapan apalagi dengan penulisan yang ada disertai tanda bisat.
Baru saja bahasa Daerah dijadikan pelajaran muatan lokal di sekolah setingkat SMA/SMK, referensi dan literasi sangat jarang dijumpai hingga kadang guru pengajarnya pun belum bisa menggunakan bahasa Madura dengan baik dan benar, apalagi menggunakan penulisan bahasa Madura dan penulisan anacaraka akan menjadi sangat sulit.
Butuh sosialisasi terus menerus dan berkesinambungan agar bahasa Madura ini menjadi sangat familiar di masyarakat, tingkatan bahasa dalam berbicara dengan sesama atau orang yang lebih tua jelas harus bisa dibedakan di masyarakat umum, karena menyangkut etika dan budi pekerti luhur terutama generasi muda masa kini.
Tidak ada yang tidak bisa jika sosialisasi ini masif dalam pemerataan menggunakan bahasa Madura yang notabene adalah bahasa kita sendiri, orang Madura harus menjadi orang Madura, dengan cara melestarikan bahasa, tata krama (Perilaku), sejarah dan budaya orang Madura, jangan sampai menjadi orang Madura akan tetapi tidak memahami Madura itu sendiri, ciri khas dan jati diri adalah menjadi kunci kita adalah orang Madura asli.
Pentingnya peran Pemerintah Daerah untuk bisa mendorong melestarikan dan mewajibkan bahasa daerah masing-masing, sosialisasikan wajib bisa berbahasa Madura dengan baik dan benar dimulai dari tingkat Sekolah Dasar, mungkin dengan cara sering diadakan lomba puisi, pantun, pidato dengan bahasa Madura, butuh kesadaran semua pihak utamanya orang Madura dalam membangun menggali dan melestarikan budaya Madura.
Tokoh Budaya Madura Bapak Bustomi dan Bapak Haji Daiman harus mengambil peran ditengah gurun padang pasir yang membutuhkan setetes air untuk menghilangkan dahaga masyarakat pada umumnya, generasi sekarang tidak mengerti dan kemahiran budaya dan bahasa Madura dikarenakan tidak ada gerakan yang masif memberikan informasi agar bisa mereka belajar kembali warisan budaya bahasa leluhurnya, beliau berdua bisa menjadi partner membuat grand design untuk melestarikan bahasa budaya Madura melalui Madoera Tempo Doeloe.