
Pada pertemuan waktu itu menjelang dini hari dengan Pengurus Madoera Tempo Doeloe Trunojoyo, Bapak Bupati Sampang mempertanyakan tentang legalitas organisasi MTD dan visi misi yang diemban, apakah hanya formalitas saja atau hanya wacana saja lembaga ini?, Ini sangat bagus visi misi dan program kerja dalam membantu Pemerintah Daerah, namun jangan dijadikan wacana saja yang menguap begitu saja, ujar Bapak Bupati Sampang.
Dilanjutkan Pertanyaan-pertanyaan untuk menguji sejauh mana pengurus organisasi MTD ini menguasai sejarah, diawali dengan pertanyaan sekitar Pangeran Trunojoyo, dimana Makam Trunojoyo? Kenapa di Yogyakarta tidak ada nama jalan Trunojoyo?
Sembari terjadi dialog antara Bupati Sampang dengan pengurus MTD namun perbincangan berjalan dengan serius santai tanpa dengan hidangan kopi teh juga camilan yang sudah disuguhkan.
Pesan Bupati Sampang, Jangan sekali-kali melupakan sejarah leluhur, kita ini bisa seperti ini adalah berkat dari leluhur kita, kemerdekaan yang kita nikmati adalah hasil dari perjuangan sampai titik nadir para pendahulu kita, salah satunya adalah Pangeran Trunojoyo sampai hari ini kita dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sampang sudah mengajukan agar Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, kita juga melobi Pemerintah lainnya Provinsi Pusat yang mempunyai kepentingan yang sama.
Pangeran Trunojoyo dianggap sebagai Pahlawan bukan oleh orang Madura saja, namun banyak daerah yang kepentingannya dibela oleh Pangeran Trunojoyo dan itu adalah murni sebuah perjuangan untuk kesejahteraan rakyat, bukan menindas diperas dijadikan sapi perah oleh Amangkurat kerajaan Mataram yang bekerjasama dengan VOC Belanda.
Bagi pengikut kerajaan Mataram dan VOC menganggap Pangeran Trunojoyo adalah pemberontak, karena Pangeran Trunojoyo menghalangi pekerjaan mereka yang mengambil keuntungan tanpa peduli terhadap nasib rakyat kecil yang seenak udelnya dijadikan sapi perah, tanpa diberikan imbalan yang pantas untuk bisa menghidupi keluarga mereka.
Melihat ketidak adilan dan penindasan terhadap rakyat kecil Pangeran Trunojoyo akhirnya mengambil alih untuk menyerang dan menguasai Kerajaan Mataram, dimulai dengan daerah pinggiran yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram yang lokasinya waktu itu di Yogyakarta, makanya sampai sekarang di Yogyakarta nama jalan Trunojoyo tidak ada, karena Pangeran Trunojoyo dianggap sebagai pemberontak.
Untuk itu melalui organisasi MTD yang berbasis Sejarah dan Kebudayaan ikut serta juga masyarakat utamanya Madura bersatu dengan gerakan dari bawah, karena dari atas kita sudah melobi dan mengajukan dengan arsip dan dokumen Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, tinggal menunggu waktu saja, imbuh Bapak Bupati Sampang.
Mari untuk mengajak semua pihak berjuang untuk mempublikasikan mendorong pihak-pihak terkait untuk terus menerus bersuara, karena ini fakta sejarah yang tidak boleh dilupakan tentang perjuangan leluhur kita sang Panembahan Madura yang telah banyak mengorbankan dirinya sampai titik darah penghabisan, jangan hanya berwacana saja, mengambil istilah salah satu slogan.. Talk Less Do More.