Sekilas tentang Raden Trunojoyo Panembahan Madura yang harus menjadi Pahlawan Nasional Indonesia

Mungkin banyak rakyat di Indonesia ini tidak begitu banyak tahu tentang siapa Pangeran Trunojoyo, tentang riwayat Pangeran Trunojoyo, dan sepak Terjang Pangeran Trunojoyo memperjuangkan rakyat oleh penguasa Mataram yang bekerjasama dengan VOC.

Sebelum bicara lebih jauh tentang Pangeran Trunojoyo mari kita coba berkenalan siapa sosok Pangeran Trunojoyo Sang Raja Madura.

Raden Praseno yang bergelar Cakraningrat I adalah adipati (Bupati) pertama di Kabupaten Sampang (1624-1648), Raden Praseno mempunyai beberapa istri dan mempunyai 11 putra dan putri, anak ke-3 bernama Raden Mloyo Kusumo yang melahirkan anak bernama Raden Trunojoyo.

Pangeran Trunojoyo dilahirkan di Sampang Madura, dibuktikan dengan Ari-ari nya ada di Pababaran Jalan Pahlawan Gg. VII Sampang, Nama kecil pangeran Trunojoyo dikenal dengan nama Raden Nila Prawata, beliau dikenal anak yang cerdas dan peduli terhadap sesama, tidak bisa melihat orang tertindas atau teraniaya, Pangeran Trunojoyo adalah pemuda penganut agama Islam yang taat dan jiwanya akan bergejolak melihat ketidak adilan dan penindasan terhadap rakyat kecil di Jawa maupun di Madura.

Pemberontakan Trunojoyo dimulai dari ia sering melihat penindasan dan ketidak adilan terhadap rakyat kecil, masa pemerintahan waktu itu beralih pimpinan oleh anak raja Kerajaan Mataram yaitu Susuhunan Amangkurat I (Anak Sultan Agung), sedangkan di Sampang dipimpin oleh Pamannya yakni Pangeran Undagan yang bergelar Cakraningrat II.

Pada masa pemerintahan waktu itu tidaklah seperti raja dan adipati sebelumnya yang lebih bisa memberikan keamanan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada rakyatnya, sangat berbanding terbalik karena berhasil dihasut oleh VOC untuk merongrong rakyat kecil untuk bekerja diambil hasilnya tanpa mendapatkan apapun dari apa yang dilakukannya.

Dan pada akhirnya membuat jiwa pangeran Trunojoyo bergejolak untuk memberontak pada Kerajaan Mataram, satu persatu wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram diambil alih oleh Pangeran Trunojoyo dibantu oleh orang-orang yang juga tertindas oleh Kerajaan Mataram, hingga pada akhirnya Pangeran Trunojoyo berhasil dilumpuhkan dan mati yang konon di tangan pamannya sendiri dari Kerajaan Mataram yang bekerjasama dengan VOC.

Dari cerita singkat diatas Pangeran Trunojoyo patut untuk dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia karena membela kebenaran dan keadilan untuk rakyatnya sendiri.

Namun realitanya sampai saat ini Pangeran Trunojoyo belum bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, padahal Bupati Sampang dan bupati terdahulunya sudah mengajukan dengan bukti dokumen dan juga arsip untuk menunjang agar Pangeran Trunojoyo bisa dijadikan Pahlawan Nasional Indonesia.

Sangat ironi memang sudah puluhan tahun yang lalu diajukan, namun sampai saat ini belum juga dijadikan sebagai Pahlawan Nasional, bahkan Ibu Gubernur Khofifah dan ketua Madoera Tempo Doeloe juga sudah membantu mengajukan Pangeran Trunojoyo untuk bisa dijadikan Pahlawan Nasional.

Ada satu hal yang menarik dari orang Arsip Daerah Sampang Bapak Sudarmanto dan bapak Fathor Rosi, beliau mengatakan sudah lama mengirim Arsip ke pusat sebagai bukti otentik tentang Pangeran Trunojoyo untuk bisa dijadikan Pahlawan Nasional Indonesia, dan ini kemungkinan besar adalah pengaruh Pemimpin Negeri ini yang mayoritas berasal dari Jawa hingga Pangeran Trunojoyo selama dipimpin oleh orang Jawa tidak bisa dijadikan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, karena oleh turunan Kerajaan Mataram sampai sekarang Pangeran Trunojoyo adalah sebagai pemberontak.

Untuk itu penulis sebagai orang yang berasal dari Madura dan melalui organisasi yang sangat peduli terhadap sejarah dan seni budaya melalui Madoera Tempo Doeloe dan Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama (Lesbumi) mengajak masyarakat pada umumnya untuk bersama berbondong-bondong dengan terus menekan dan menanyakan perkembangan Pemerintah Daerah Provinsi maupun Pusat untuk segera menjadikan Pangeran Trunojoyo sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Tinggalkan komentar